Alunan Musik Sumatra di Kennedy Center, Washington DC

House of Angklung, Saroha dan Rumah Gadang adalah tiga organisasi kesenian di wilayah Maryland, Washington, DC dan Virginia yang tampil dalam acara “Groove of Sumatra” Sabtu malam (30/9), atas prakarsa dari Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI Washington, DC.

Ditanya mengapa kali ini mengambil tema Sumatera, Kepala Bidang P dan K KBRI, Ismunandar mengatakan, “Ya, karena kalau kesenian Bali dan Jawa sudah sering kita tampilkan. Sumatra kan juga mempunyai banyak seni-budaya yang unik, juga pemandangan alamnya, dan lain sebagainya.”

Untuk bisa tampil di Pusat Pertunjukan Seni bergengsi seperti di Kennedy Center, prosesnya memerlukan waktu sekitar 3 bulan, sampai mendapat persetujuan dari pihak Kennedy Center setelah mereka menonton video yang diajukan oleh organisasi kesenian itu.

Beragam kesenian asal Sumatra Utara bagian utara dan Sumatra Barat ditampilkan di depan lebih dari 300 penonton yang memenuhi Millenium Stage, salah satu panggung di Kennedy Center yang diperuntukkan bagi beragam pentas dari seluruh dunia dan tanpa dipungut biaya masuk.

Grup Angklung, House of Angklung yang dibentuk tahun 2007 bekerja sama dengan Saroha dan Rumah Gadang, menampilkan tarian ritual Batak, alat musik kendang dan suling dari Sumatra Barat serta lagu Minang dan Aceh, di antaranya Bunga Jumpo.

Acara semacam ini tentu saja sebagai sarana mempromosikan Indonesia lewat seni-budaya, apalagi dengan melibatkan penonton untuk bermain angklung. Pelatih dan Konduktor angklung, Tricia Sumarjono mengajarkan singkat cara bermain angklung dengan menggunakan solfege hand sign atau dengan melakukan berbagai lekukan tangan dan jari untuk menerjemahkan masing-masing not.

Cecilia, seorang penonton pertunjukan ini mengatakan ia senang mempelajari musik dari negara lain. “It looks easy but it’s not. But it really make me happy,” ujarnya.

Lain halnya dengan Vanessa yang datang menonton dari Los Angeles. Vanessa yang asli dari Perancis merasa mudah memainkan musik angklung.

Warga Indonesia asal Madura yang sudah puluhan tahun tinggal di Amerika, Mohammad Yamin, juga mengaku senang menyaksikan pertunjukan ini. “Saya sudah lama tidak mendengar tentang Sumatra, dan malam ini saya menyaksikannya, benar-benar excited,” tambahnya.

Penonton juga diberi kesempatan untuk ikut memainkan alat musik tradisional Sunda itu dalam lagu “We Are The World” dan diakhiri dengan “America the Beautiful”. [ps/al]

Sumber / Copyright : voaindonesia.com