AS Bujuk Negara-negara Afrika agar Putuskan Hubungan dengan Korea Utara

Para pejabat Amerika mengatakan mereka berusaha membujuk pemerintah negara-negara Afrika agar memutuskan hubungan dengan Korea Utara, karena negara itu menggunakan penghasilan yang diperoleh secara ilegal untuk mengancam Amerika, dan dunia, dengan tindakan-tindakannya terkait senjata nuklir.

Para pejabat Amerika mengatakan setiap dolar yang mengalir ke Korea Utara digunakan untuk melanjutkan program senjata nuklirnya yang dikutuk masyarakat internasional. Sementara ketegangan meningkat antara Amerika Serikat dan Korea Utara, Washington berusaha memutus sumber pemasukan Korea Utara sedapat-dapatnya.

PBB telah menyelidiki paling tidak tujuh negara Afrika yang mengabaikan sanksi-sanksi internasional dengan terus melakukan perdagangan dengan Korea Utara. Korea Utara memiliki kedutaan besar di delapan negara sub-Sahara Afrika, dan memiliki hubungan dagang dengan sekurang-kurangnya 11 negara Afrika.

Wakil Utusan Khusus Kementerian Luar Negeri AS untuk Kebijakan mengenai Korea Utara, Mark Lambert mengatakan, Amerika menyampaikan pesan jelas kepada negara-negara Afrika, dan Korea Utara.

“Amerika ingin bekerja sama dengan kalian untuk mengirim dua pesan jelas kepada Korea Utara. Pertama, masyarakat internasional bersatu dan tidak akan pernah menerima Korea Utara sebagai negara nuklir dan akan terus menekan Pyongyang untuk kembali ke meja perundingan. Kedua, kita ingin menegaskan kepada rakyat Korea Utara, dan para pemimpinnya, bahwa ada masa depan yang lebih baik,” tukas Lambert.

Para pejabat mengakui bahwa perdagangan Korea Utara dengan negara-negara Afrika sangat kecil. China dan Rusia adalah mitra dagang Pyongyang yang jauh lebih besar.

Sementara, Duta Besar Uni Afrika untuk Amerika Serikat, Arikana Chihombori-Quao, mengatakan kepada VOA bahwa para pemimpin Afrika sangat marah karena kata hinaan terkait imigran dari Afrika dan Haiti yang diucapkan presiden Donald Trump. Ia mengatakan diperkirakan akan ada langkah formal dan protes diplomatik, termasuk kemungkinan boikot oleh duta besar negara-negara Afrika dalam pidato kenegaraan Trump di depan Kongres.

Sekretaris pers Gedung Putih Sarah Huckabe Sanders mengakui bahwa Trump menggunakan kata-kata keras dalam rapat dengan legislator mengenai imigrasi.

“Saya kira itu adalah salah satu sebab mengapa rakyat Amerika mencintai Presiden Trump, salah satu sebab mengapa ia menang dalam pemilihan dan sekarang menjabat sebagai presiden. Karena ia bukan robot yang hanya membaca naskah. Ia suka bicara blak-blakan, dan kadang-kadang menggunakan kata-kata keras,” ujar Sanders.

Botswana, Ghana, Haiti, Namibia, Senegal, dan Uni Afrika telah mengajukan protes diplomatik resmi. [ds]

Sumber RSS / Copyright : voaindonesia.com