Badai Irma Sapu Florida, Sebagian WNI Memilih Bertahan

Warga Florida Sabtu dini hari (9/9) bersiap menghadapi badai Irma, badai kategori lima yang diperkirakan akan menyapu negara bagian berpenduduk 20,6 juta jiwa itu dengan kekuatan 250 kilometer per jam.Badan Urusan Cuaca Amerika memperkirakan badai Irma akan mulai menyapu kawasan Keys antara jam 5 hingga 7 pagi, dan diperkirakan akan sedikit melemah ketika menuju ke daratan.

Dalam konferensi pers Jumat pagi (8/9) Ketua Badan Manajemen Darurat Federal FEMA Brock Long mengatakan, “Badai Irma jelas akan menjadi ancaman yang akan melulunlantakkan sebagian Amerika. Kita akan menghadapi beberapa hari yang cukup berat.”

Lebih dari 1,2 Juta Orang Diperintahkan Keluar dari Daerah Bahaya

Perintah evakuasi wajib telah dikeluarkan untuk warga di sejumlah pulau dan dataran rendah Florida. Jumlah warga yang diperintahkan keluar dari daerah-daerah itu diperkirakan mencapai 1,2 juta orang.

Hingga laporan ini disampaikan jalan-jalan utama di rute antar-negara bagian 75 dan 95 menuju ke utara kini mengalami kemacetan karena ribuan mobil berupaya keluar dari Florida. Beberapa mobil terpaksa meminggirkan kendaraan mereka ketika kehabisan bahan bakar.

Gubernur Florida : Jika Tidak Evakuasi Malam Ini, Siap-Siap Hadapi Resiko Sendiri

Gubernur negara bagian Florida Rick Scott menyerukan warga yang keluar dari Florida untuk berkendara dengan kecepatan rendah di seluruh jalur, termasuk bahu jalan. Ia belum membuka jalur pada arah sebaliknya agar bisa dilewati mereka yang hendak menuju ke utara karena masih membutuhkan jalur tersebut untuk mengantar pasokan BBM dan sembako yang dibutuhkan warga yang bertahan. “Jika Anda berencana keluar dari Florida tetapi tidak melakukannya malam ini, Anda harus melakukannya nanti di tengah cuaca sangat buruk dan atas resiko sendiri,” ujar Scott.

Sebagian WNI Memilih Bertahan

Di antara warga yang bertahan di Florida adalah beberapa warga negara Indonesia. Diwawancarai VOA Jumat malam, Turi Isherdianto, ibu satu anak yang tinggal di Weston, di pinggir kota Miami mengatakan khawatir sekali dengan datangnya badai Irma. Turi memutuskan bertahan karena semula memperkirakan akan baik-baik saja, mengingat daerah tempat tinggalnya tidak terletak di zona evakuasi wajib.

Ketika beberapa hari lalu beberapa tetangga, termasuk tiga dari sepuluh temannya, berangkat ke Georgia dan Alabama, Turi masih tak bergeming, apalagi ia baru pindah rumah sehingga masih disibukkan dengan berbagai urusan. “Ketika menyadari, saya rasa sudah terlambat. Saya takut jalanan macet dan gak ada bensin karena di mana-mana pom bensin habis. Sementara pesawat banyak yang di-cancel (dibatalkan:red). Kalau sampai terjebak di jalan khan akan lebih berbahaya karena tidak ada tempat untuk berlindung,” ujar Turi.

Walhasil Turi sekeluarga dan seorang teman dengan anaknya, kini berlindung di rumah saja. “Saya takut sekali Mbak. Tapi kini sudah terlambat evakuasi. Setidaknya kini kami ke ruangan yang paling aman. Setahu kami rumah-rumah yang dibangun setelah badai Andrew (tahun 1992) wajib punya dinding dan atap yang tahan terhadap badai kategori tiga,” tambah Turi.

WNI Siapkan Pasokan Sembako, Air Bersih dan Batere

Senada dengan Turi, Ibu Joko Moten yang pernah mengalami badai Andrew tahun 1992, juga memilih bertahan dan tidak keluar dari Florida. Ia hanya memilih meninggalkan rumahnya yang terletak di bagian utara Miami Beach, yang masuk zona wajib evakuasi, dan untuk sementara tinggal di rumah anaknya yang terletak beberapa kilometer dari rumahnya dan berada di dataran tinggi.

“Berbeda dengan badai Andrew yang dulu menyapu hanya di satu titik saja, badai Irma ini khan kabarnya bakal melanda seluruh Florida, jadi kalau dulu saya bertahan di rumah, kini saya mengungsi sedikit ke rumah anak. Yang saya khawatirkan adalah ombak tinggi. Bukan angin,” ujar ibu Joko Moten kepada VOA.

Namun belajar dari pengalamannya menghadapi beberapa badai besar selama tinggal di Amerika, ia telah menyiapkan pasokan sembako, air bersih dan “salah satu yang paling penting adalah men-charge semua telepon dan menyiapkan baterai. Karena jika listrik mati, kita hanya bisa bertahan dengan baterai di HP, atau baterai dari senter,” tambahnya. Kini ibu Joko Moten bertahan bersama suami dan anak keduanya yang berusia 13 tahun.

KJRI Houston : WNI di Florida Harus Ikuti Petunjuk Otorita Berwenang

Menurut data di KJRI Houston yang wilayah kerjanya mencakup beberapa negara bagian termasuk Florida, hingga 31 Agustus lalu tercatat ada 2.617 warga negara Indonesia di Florida. Konsul Konsuler KJRI Houston Dhyasti Kalista Siregar mengatakan kepada VOA bahwa pihaknya telah mengeluarkan imbauan khusus untuk warga Indonesia di Florida sejak pekan lalu.

Beberapa nomor telepon hotline juga telah diumumkan secara terbuka. “Tetapi untuk ancaman yang membahayakan jiwa seperti bencana alam, tentu warga Indonesia tetap harus merujuk pada imbauan dan instruksi pemerintah setempat,” ujar Kalista.

Nomor telepon Hotline 24 jam KJRI Houston adalah +1 346 932 7284. [em]

Sumber / Copyright : voaindonesia.com