Banjir di Bandung seperti ‘sungai’, dosen ITB ciptakan jalan berpori

banjir, bandungHak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Sejumlah warga Bandung berjalan di tengah banjir, pada 2016 lalu. Agar bisa menjadi bagian dari solusi mengatasi banjir dan genangan air di jalan, sebuah material berpori diciptakan seorang dosen ITB.

Melihat kondisi Kota Bandung yang kerap mengalami banjir di jalanan, seorang dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan material berpori pembuat jalan yang mampu menyerap air.

“Setiap saat saya pergi ke ITB, pulang dari ITB, hujan besar di Jalan Dago kok rasanya ini bukan jalan, ini sungai. Melihat seperti itu menjadi dorongan buat saya bahwa penelitian kita harus lebih aplikatif lagi,” kata Bambang Sunendar Purwasasmita.

Saat ditemui di area kampus ITB, Kepala Laboratorium Pengolahan Material Mutakhir ITB ini memeragakan daya serap Geopolimer yang sudah dicetak dalam bentuk paving block.

Laki-laki bergelar profesor doktor di bidang teknik fisika itu menyemprotkan berliter-liter air ke lahan parkir kampus yang sudah menggunakan Geopolimer. Dalam hitungan detik, air yang disemprotkan langsung terserap.

Bambang mengklaim material buatannya mampu menyerap air sebanyak 1.000 hingga 2.000 liter per meter persegi dalam waktu satu menit.

“Daya serap tergantung dari pori-pori yang kita desain. Umumnya 1.000 liter per meter persegi dalam waktu satu menit. Kalau yang kita peragakan tadi, karena itu memang untuk buangan air, itu bisa menyerap 2.000 liter per meter persegi dalam waktu satu menit,” papar Bambang kepada wartawan di Bandung, Julia Alazka.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Bambang Sunendar Purwasasmita menuangkan air ke sebuah paving blok Geopolimer ciptaannya.

Komparasi dengan beton

Selain dapat menyerap air, Geopolimer diklaim lebih tahan lama dibanding beton biasa. Bahkan daya tahannya bisa mencapai 40 tahun.

“Kita boleh lihat secara real aja. Kalau keramik terkena air kan tidak terjadi suatu pengikisan. Kalau beton terendam air, lama kelamaan akan berubah strukturnya yang berakibat mengurangi kekuatan menerima beban. Makanya banyak jalan-jalan (beton), kalau udah waktunya rusak, dia akan hancur sendiri,” kata pria yang juga anggota Dewan Riset Nasional ini.

Proses pembuatan jalan berpori pun lebih cepat dari jalan beton. Jika jalan beton membutuhkan waktu selama 14 hari agar bisa dilewati kendaraan, jalan berpori hanya butuh beberapa jam saja karena materialnya cepat kering.

Sementara proses produksi paving block berpori juga bisa dibilang cepat. Dalam sehari, Bambang mengatakan, timnya bisa membuat 100.000 batang paving block.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Bambang Sunendar Purwasasmita (paling kanan) berpose bersama para tim peneliti Geopolimer dan alat pembuat paving block Geopolimer di kampus ITB.

Limbah B3

Bahan utama Geopolimer adalah abu terbang alias fly ash. Unsur kimia dalam fly ash adalah alumina dan silica yang antara lain didapat dari limbah pembakaran batubara dan industri baja. Fly ash ini berfungsi sebagai material perekat yang menyelimuti kerikil-kerikil.

Di Indonesia, fly ash dikategorikan sebagai limbah B3 alias bahan berbahaya dan beracun.

“Limbah fly ash ini menjadi kontributor utama. Disebut limbah B3 itu karena dia terbang kan. Dia mudah terbang karena dia ukurannya nano. Kalau kita pintar-pintar packaging-nya, waktu kita nyimpan, nggakbakalan ada yang terbang sebetulnya. Yang dipakai (Geopolimer) sekarang ini, malah dia tidak ada lagi fly ash-nya,” kilah Bambang.

Bagaimanapun, untuk mengelola limbah B3, terdapat tata cara khusus sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014. Fly ash, yang dianggap beracun dan berbahaya, tidak boleh digunakan di luar laboratorium.

Meski demikian, Bambang mengklaim produk yang dihasilkannya itu telah dinyatakan aman dan ramah lingkungan.

“Aman. Kan kita sudah mencoba juga selama 90 hari, produknya direndam kemudian dites airnya, ternyata tidak ada toksik,’ ucapnya.

Bambang kini mengaku masih menunggu investor dan political will dari pemerintah.

“Yang penting, limbah B3 harus ada kebijakan dari pemerintah. Pemerintah meninjau kembali sehingga bisa dimanfaatkan untuk bangsa ini, sehingga limbah B3 ini punya kemampuan added value yang tinggi di masyarakat. Jadi kita bisa menekan cost production dan hal-hal lainnya yang sekarang merupakan faktor utama di dalam konstruksi. Kalau pakai ini cost production-nya turun,” kata Bambang.

“Suatu inovasi kalau tidak ada political will pemerintah, nggak bakal jalan,” tegasnya.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Bahan utama Geopolimer adalah abu terbang alias fly ash. Unsur kimia dalam fly ash adalah alumina dan silica yang antara lain didapat dari limbah pembakaran batubara dan industri baja.

Bagian dari solusi banjir

Menanggapi inovasi geopori, warga Kota Bandung menyambut baik. Mereka berharap inovasi itu dapat menjadi bagian dari solusi banjir.

Nova Nugraha, warga Riung Bandung, menyakini Geopolimer efektif mengatasi genangan air di jalan atau yang dalam istilah setempat disebut banjir Cileuncang .

“Sebetulnya hujan bisa menjadi banjir Cileuncang . Jadi kalau ada aspal yang menyerap air, sangat efektif mengatasi banjir,” kata Nova.

Sedangkan Satria Ari Wibowo, seorang warga Bandung lainnya, meyakini jalan berpori bisa menampung air saat musim hujan tiba.

Respons positif juga dilontarkan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Menurutnya, Geopolimer sangat memungkinkan untuk diaplikasikan di Kota Bandung sebagai solusi mengatasi banjir. Emil, nama sapaannya, berjanji akan menerapkan teknologi Geopolimer di jalan-jalan Kota Bandung, tahun depan.

“Sangat memungkinkan (untuk diaplikasikan). Insya Allah kita coba pakai di spec tahun depan,” kata Emil berjanji.

Kendati demikian, meski mengaku mendukung inovasi, Ridwan Kamil meragukan kesiapan hasil penelitian tersebut diaplikasikan di lapangan.

“Tapi kan harus dilihat, kalau nanti diorder (sepanjang) kilometeran, aya teu (ada gak)? Kan tidak sesederhana itu antara peneliti dan Industri. Peneliti cuma bikin sampling, pas kita mau beli ternyata belum siap secara industri. Jadi masih panjang urusannya. Tapi kita mendukung semua yang membantu Kota Bandung lebih baik,” ujar Emil.

Sumber RSS / Copyright : bbci.co.uk