Beras RI Lebih Mahal dari Negara Tetangga, Ini Penyebabnya

Jakarta – Food and Agriculture Organization (FAO) merilis harga beras Indonesia lebih tinggi dibandingkan harga beras internasional. Pada 2016 lalu, harga beras Indonesia berada di level US$ 1 /kilogram (kg), sementara harga beras rata-rata internasional hanya sekitar US$ 0,4 /kg.

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi), Soetarto Alimoeso, mengungkapkan salah satu penyebab dominan mahalnya harga beras di Indonesia adalah penggunaan pupuk yang relatif sangat tinggi, bahkan kerapkali overdosis.

Penggunaan pupuk yang tinggi, kata Soetarto, berkontribusi membuat ongkos produksi gabah petani di lebih mahal. Dia mencontohkan, petani di Jawa Barat seperti Karawang menggunakan pupuk hingga 500 kg per hektarnya.

“Di daerah Karawang per hektar (penggunaan pupuk) bisa 500 kg. Ada karena kekeliruan cara berhitung petani kita yang suka gede-gede (pakai pupuk). Padahal perlunya hanya beberapa kilogram. Pupuk ini memegang porsi besar,” jelas Soetarto dalam Diskusi Pataka ‘Dialog Kesejahteraan Petani Padi’ di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta, Rabu (21/6/2017).

Dia membandingkan dengan negara-negara ASEAN lain sesama produsen beras yang penggunaan pupuknya relatif lebih sedikit dan terkontrol, contohnya Vietnam dan Thailand. Di mana penggunaan pupuknya bahkan bisa sepersepuluh dari rata-rata penggunaan pupuk petani di Indonesia.

“Di Vietnam misalnya lahan petani luas, sehingga penggunaan mekanisasi bisa lebih efektif. Kemudian pemupukan juga bisa diatur lebih mudah, tak perlu banyak penggunaan pupuk sebagaimana di Indonesia,” terangnya.

Penggunaan pupuk

Menurutnya, idealnya penggunaan pupuk per hektar tak sampai 300 kg. Namun dalam beberapa kasus penggunaan pupuk, seperti Urea, petani di atas 500 kg.

“Di kita sering di atas 500 kg. Di sepanjang Sungai Mekong (Thailand dan Viatnam) malah kadang lebih mengandalkan (kesuburan) dari banjir. Pupuknya bisa sepersepuluh dibandingkan dengan kita,” ujar Soetarto.

Konsumsi pupuk yang tinggi ini, lanjutnya, ikut menyumbang tingginya ongkos tanam petani di Indonesia, sehingga pada akhirnya berpengaruh pada harga jual padi.

Diungkapkannya, faktor lainnya yang membuat harga beras di Indonesia cukup mahal, juga tentunya tak lepas dari kepemilikan lahan petani di Indonesia yang sempit. Bahkan sejumlah petani hanya berstatus sebagai penggarap alias tak memiliki tanah sama sekali.

Menurut mantan Dirut Bulog ini, rata-rata kepemilikan lahan setiap keluarga petani di Indonesia hanya 0,3 hektar, jauh dibandingkan dengan petani di Thailand dan Vietnam yang kepemilikan tanahnya rata-rata di atas 2 hektar.

“Rata-rata kepemilikan lahan sempit. Malah dia hanya sewa dan penggarap saja, jadi apapun yang dilakukan, harga beras berapapun susah kalau lahannya petani sempit. Kalau dibandingkan dengan negara-negara ASEAN beras kita mahal. Kalau dari teknologi enggak jauh beda,” terang Soetarto.

Data FAO, harga rata-rata beras di Indonesia per Maret 2017 yakni US$ 0,79 atau Rp 10.499 (kurs Rp 13.290). Sebagai pembanding, harga beras rata-rata per kg di Kamboja yakni US$ 0,42/kg. Harga beras dari negara lainnya Thailand yakni US$ 0,33/kg, dan kemudian Vietnam US$ 0,31/kg. Harga beras di Myanmar bahkan mencapai US$ 0,28/kg.

Beberapa negara yang selama ini jadi eksportir beras di dunia seperti India juga memiliki harga beras yang lebih murah seperti Bangladesh US$ 0,46/kg, beras India US$ 0,48/kg, Pakistan US$ 0,42/kg, dan Sri Lanka US$ 0,50/kg.

Namun demikian, beberapa negara lain di Asia memiliki harga beras yang lebih mahal ketimbang Indonesia, seperti Jepang yang harga berasnya US$ 4,11/kg, Filipina US$ 0,82/kg, China US$ 0,91/kg, Korea Selatan US$ 1,57, Laos US$ 1,01/kg, Nepal US$ 1,03/kg, Arab Saudi US$ 2,16/kg, dan Palestina US$ 1,95/kg. (idr/hns)

Copyright : detik.com