Dana Desa Bisa Genjot Daya Beli Masyarakat di Daerah

Jakarta – Setelah tahun lalu lesu, daya beli masyarakat pada 2018 ini diyakini akan kembali meningkat, sehingga berdampak positif bagi bisnis ritel yang pada 2017 banyak tutup.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengaku optimis daya beli masyarakat membaik tahun ini terutama karena adanya penyaluran dana ke daerah secara lebih optimal.

“Ada besar kemungkinan 2018 ini lebih baik dari 2017 karena tuntutan untuk menyalurkan atau mencairkan dana-dana ke daerah itu dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dana desa, itu sekarang sudah semakin cermat,” ujarnya ketika dihubungi detikFinance, Rabu (3/1/2017).

Menurutnya, penyaluran dana ke daerah di tahun ini bisa dikawal secara lebih baik sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

“Dengan adanya satgas-satgas yang kawal dana-dana tersebut, sehingga ketika cair di daerah, kabupaten, kota, maka akan timbulkan produktivitas dan produktivitas itu akan menimbulkan juga pendapatan untuk konsumsi. Nah jadi kelihatannya 2018 mestinya lebih baik,” tambahnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani juga meyakini daya beli masyarakat pada tahun ini lebih baik ketimbang 2017 jika penyaluran dana desa lebih baik.

“Program pemerintah dana desa itu juga kan mestinya lebih banyak perbaikan lagi dimonitor penyerapannya,” ujarnya.

Dengan adanya faktor-faktor tersebut, Haryadi memperkirakan daya beli masyarakat perlahan akan tumbuh, apalagi jika semakin banyak terbuka lapangan kerja yang.

“(Daya beli) akan naik, Insyaallah akan naik. Kalau (kelas) menengahnya bergerak, otomatis juga ada employment (lapangan kerja), ada penyerapan (tenaga kerja), ada kerja baru,” jelasnya. (zlf/zlf)

Sumber RSS / Copyright : detik.com