Donald Trump kirim cek sesudah keluarga prajurit mengungkap ia tak tepati janji

Cpl Dillon BaldridgeHak atas foto Facebook
Image caption Kopral Dillon Baldridge dibunuh oleh seorang tentara Afghanistan yang dilatihnya sendiri.

Gedung Putih mengatakan Presiden Donald Trump telah mengirim cek pribadi ke keluarga tentara yang tewas setelah keluarga itu mengatakan bahwa Trump tidak menepati janji untuk menyumbang dari dana pribadi.

Ayah dari seorang tentara yang terbunuh di Afghanistan mengatakan bahwa Trump pernah menjanjikan dana sebesar $25.000 (Rp350 juta) dari uangnya sendiri saat menelponnya bulan Juni.

Gedung Putih mengatakan, ‘menjijikkan’ bahwa media membesar-besarkan masalah ini.

Masalah mengemuka setelah sebelumnya muncul tudingan bahwa Trump ‘tidak berperasaan’ terhadap seorang janda prajurit yang tewas dalam perang.

Seorang angota kongres mengatakan bahwa dalam percakapan telepon, Trump mengatakan kepada janda tentara itu, bahwa mendiang suaminya ‘sudah tahu risikonya saat mendaftar jadi tentara, kendati tetap saja kematian itu menimbulkan duka cita.” Trump menolak tudingan itu.

Hak atas foto Facebook
Image caption Chris Baldridge, sang ayah yang bangga, bersama mendiang puteranya Dillon.

Washington Post melaporkan sebuah peristiwa lain tentang panggilan telepon dari Presiden Trump terhadap Chris Baldridge, ayah dari Dillon Baldridge, prajurit AS lain yang tewas di Afghanistan.

Kopral Dillon Baldridge, 22 tahun, terbunuh pada musim panas lalu oleh seorang komandan Afghanistan nakal yang dia latih.

Baldridge mengatakan bahwa dlam percakapan telepon itu ia mengungkapkan keputus-asaannya kepada Trump tentang program tunjangan militer AS.

Yang mengejutkan, katanya, presiden menjanjikan untuk mengirim cek dari dana pribadinya dan melakukan penggalangan dana online.

Namun, katanya, keluarga tersebut masih menunggu pemenuhan janji itu.

“Andai saja saya merekam percakapan itu,” katanya.

“(Trump) berkata, ‘Tidak ada presiden lain yang pernah melakukan hal seperti ini,’ tapi, katanya, ‘Saya akan melakukannya.'”

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Trump memojokkan Obama tentang keluarga prajurit AS yang tewas di medan perang.

Juru bicara Gedung Putih Lindsay Walters mengatakan kepada media AS beberapa jam sesudah laporan Washington Post itu: “Cek telah dikirim.”

“Merupakan hal yang menjijikkan bahwa sesuatu yang seharusnya dilihat sebagai isyarat kemurah-hatian dan ketulusan, yang muncul sebagai prakarsa pribadi Presiden, digunakan media untuk kepentingan agenda media yang bias.”

Jessie Baldridge, ibu tiri dari tentara yang terbunuh itu mengatakan kepada media bahwa keluarga itu tidak menyimpan kebencian terhadap Trump terkait penundaan (pengiriman cek) tersebut.

“Kami hanya menganggap dia mengatakan sesuatu yang baik (dalam percakapan telepon itu),” katanya kepada WTVD, sebuah stasiun TV lokal, di North Carolina.

“Kami mendapat surat pernyataan duka cita dari Presiden Trump, dan tidak ada cek di dalamnya, lalu kami berseloroh saja tentang hal itu.”

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pengiriman cek itu “telah diagendakan sejak panggilan telepon Presiden dengan ayah prajurit itu”.

“Ada proses yang dapat melibatkan banyak lembaga setiap kali Presiden berinteraksi dengan publik, terutama saat mengirimkan dana pribadi,” kata pejabat tersebut.

Hak atas foto CBS News/US Army
Image caption Isteri mendiang Sersan Johnson, di keranda suaminya di Bandara internasional Miami.

“Presiden telah beberapa kali menindak-lanjuti hal ini secara pribadi untuk memastikan dikirimnya cek tersebut. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, cek itu telah dikirim.”

Trump bukanlah presiden pertama yang dituduh tidak menepati janji kepada keluarga yang sedang berduka.

Pada tahun 2016, Presiden Barack Obama menjanjikan sumbangan ke sebuah yayasan yang didirikan oleh keluarga sandera AS yang dibunuh, Kayla Mueller.

Namun sumbangan itu tak pernah dikirim, sampai sebuah laporan ABC News mengungkapkannya.

Baru kemudian Gedung Putih mengirmkan sumbangan itu, disusul surat pribadi dari Presiden Obama, meminta maaf bahwa janjinya baru dipenuhi setelah 18 bulan.

“Presiden Obama mengira bahwa hal itu sudah ditangani (oleh para stafnya) kata Ibu Kayla Mueller, Marsha Mueller kepada ABC News.

Sumber RSS / Copyright : bbci.co.uk