Drama TV Ingris tentang Korea Utara mendapat serangan siber

Kim Jong-unHak atas foto Getty Images
Image caption Para pejabat dari Korea Utara menggambarkan drama berjudul Opposite Number tersebut sebagai ‘fitnah.’

Para peretas Korea Utara dikabarkan melalkukan serangan siber trhadap sebuah perusahaan televisi Inggris yang membuat sebuah drama tentang negara tersebut.

Serial yang aan ditulis oleh seorang penulis skenario nominasi Oscar ini untuk sementara ditangguhkan pembuatannya.

Pada bulan Agustus 2014, saluran televisi Channel 4 mengumumkan apa yang dikatakannya sebagai sebuah serial drama baru yang ‘berani dan provokatif.’

Drama berjudul Opposite Number, menceritakan tentang seorang ilmuwan nuklir Inggris yang dipenjara di Korea Utara.

Namun perangkat komputer milik perusahaan Mammoth Screen yang terlibat dalam produksi film itu kemudian mendapat serangan siber.

Proyek pembuatan film ini masih mandek karena pihak perusahaan gagal menggalang dana, kata perusahaan itu.

Kewalahan

Para pejabat Korea Utara menanggapi dengan marah saat pertama kali rincian serial televisi itu diungkap. Pyongyang menggambarkan alur film tersebut sebagai sebuah ‘lelucon fitnah’ dan meminta pemerintah Inggris untuk mencegah pembuatan serial tersebut untuk menghindari tercederainya hubungan kedua negara.

Ternyata Korea Utara melakukan tindakan lebih dari sekedar protes, dengan meretas jaringan komputer perusahaan yang berada di belakang pembuatan film tersebut.

Insiden ini pertama kali dilaporkan oleh harian New York Times, yang menyebut bahwa Channel 4 adalah korban serangan itu, namun BBC mendapati bahwa target yang disasar para peretas itu sebenarnya adalah Mammoth Screen.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penulis skenario drama Opposite Number, Matt Charman pernah dinominasikan meraih Oscar untuk film berjudul Bridge of Spies yang disutradarai Steven Spielberg pada tahun 2015.

Serangan tersebut tidak menimbulkan kerusakan, namun kemunculan para peretas Korea Utara dalam sistem tersebut menimbulkan kekhawatiran luas mengenai apa yang mungkin mereka lakukan.

“Mereka kewalahan,” kata seorang eksekutif televisi dari perusahaan lain kepada BBC, saat menjelaskan kekhawatirannya.

Intelijen Inggris juga telah mengetahui akan serangan tersebut.

Kekhawatiran semakin bertambah, karena Sony Pictures pernah mengalami serangan siber berat pada bulan November 2014.

Sebuah kelompok yang menamakan diri Guardian of Peace mengklaim bahwa mereka berada di belakang aksi peretasan tersebut, namun para petinggi AS mengatakan mereka yakin Korea Utara lah yang bertanggung jawab.

Serangan itu juga merupakan aksi balas dendam terhadap rencana penayangan sebuah film berjudul The Interview, sebuah drama komedi yang mengisahkan pemimpin Korea Utara yang terbunuh.

Para peretas bukan hanya mencuri dan mempublikasikan e-mail studio film tersebut, namun mereka juga menghancurkan sebagian besar jaringan komputer tersebut. Film ini pun akhirnya dirilis secara online di tengah kekhawatiran berbagai bioskop untuk menayangkannya karena berbagai ancaman.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Perusahaan Sony Pictures menarik film The Interview dari berbagai bioskop setelah jaringan komputernya diretas.

Insiden itu juga mendapat reaksi keras dari Gedung Putih, termasuk presiden Obama yang kemudian menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara. Sejauh ini pemerintah Inggris tidak menunjukkan kekhawatiran seperti AS, meski para pejabatnya telah mengetahui bahwa salah satu perusahaan Inggris juga menjadi sasaran – walaupun dampaknya tidak sama seperti yang dialami Sony Pictures.

Serangan meningkat

Di Inggris, drama Opposite Number ini ditangguhkan penayangannya. Drama ini dijadwalkan menjadi tayangan kedua produksi divisi drama internasional Channel 4 yang baru terbentuk.

Saat itu, Mammoth Screen dan mitra distribusinya, ITV Studios Global Entertainment, mengatakan bahwa mereka mencari mitra internasional. Namun juru bicara ITV Studios – yang membeli Mammoth Screen pada tahun 2015 – mengatakan kepada BBC pada bulan Februari bahwa “produksi film belum berkembang karena gagal menggalang dana”.

Mereka yang terlibat dalam produksi film tersebut tidak memberikan penjelasan apakah gagalnya dana yang terhimpun dan produksi film yang mandek ini terkait dengan serangan siber tersebut.

Hak atas foto Mammoth Screen
Image caption Mammoth Screen pernah memproduksi serial televisi berjudul Victoria.

Ancaman siber dari Korea Utara belum berhenti. Terbukti para peretasnya semakin agresif dan mahir, mereka membidik bank-bank untuk mencuri uang, juga media di Korea Selatan.

Para pejabat Inggris juga yakin Korea Utara berada di belakang virus Wannacry yang melanda seluruh dunia pada bulan Mei, yang menyebabkan bagian-bagian penting dari lembaga kesehatan juga ikut NHS terpengaruh,

Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Inggris mengenai insiden ini.

Namun, serangan terhadap sebuah perusahaan produksi televisi dapat menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut tentang apa yang dapat dilakukan oleh Korea Utara dan bagaimana perusahaan-perusahaan di Inggris dan pemerintah Inggris bereaksi ketika hal itu terjadi.

Sumber RSS / Copyright : bbci.co.uk