Eks Wali Kota Marawi Omar Ali: Tak Percaya Konflik Berakhir Damai  

Senin, 05 Juni 2017 | 15:40 WIB

Eks Wali Kota Marawi Omar Ali: Tak Percaya Konflik Berakhir Damai  

Seorang warga memegang bendera putih sambil berbicara dengan tentara Filipina saat pertempuran antara tentara Filipina dengan militan di Marawi, Filipina, 27 Mei 2017. REUTERS/Romeo Ranoco

TEMPO.CO, Jakarta – Mantan Wali Kota Marawi di Mindanao, Filipina selatan Omar Ali menatap tajam ke lawan bicaranya saat menyatakan ia tak lagi percaya konflik berdarah di Marawi akan dapat berakhir damai. “Saya tidak tahu. Korban tewas sudah banyak, kota sudah porak-poranda,” kata Ali.

Bagi Ali, Maute bukan nama yang asing. Pria dengan julukan Solitario ini berkerabat dengan keluarga Maute lewat pernikahan adiknya, Fahad “Pre” Salic, dengan Rasmia Romato, sepupu pertama dari dua bersaudara Abdullah dan Omar Maute.

Baca: Duterte Ultimatum Militer Berangus Teroris di Marawi dalam 3 Hari

Namun, menurut Ali, klan Maute yang ia kenal dulu ketika ia masih menjabat wali kota 2001-2007, sungguh berbeda dengan kelompok yang saat ini membikin Marawi hancur. “Mereka menyebut apa yang mereka lakukan jihad. Tapi faktanya itu virus yang menghancurkan komunitas muslim,” ujar dia.

Ali menerima wartawan Tempo, Mahardika Satria Hadi, dua jurnalis dari stasiun televisi nasional, serta dua wartawan lokal Filipina di restoran masakan Jepang Tadakuma di Kota Iligan, Jumat malam pekan lalu. Satu setengah jam, eks komandan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) itu bercerita tentang Maute dan nasib Marawi.

Baca: 134 Warga Sipil Diselamatkan Saat Gencatan Senjata di Marawi

Siapa sebenarnya kelompok Maute?
Mereka tidak pernah memperkenalkan diri sebagai kelompok Maute. Mereka anak-anaknya Cayamora Maute, seorang insinyur. Ada lima anak laki-lakinya, pemimpinnya Abdullah dan Omarkhayam Maute. Keduanya ulama, Omarkhayam dulu bersekolah di Universitas Al-Azhar, Mesir. Abdullah kuliah di Yordania. Omar menikah dengan perempuan Indonesia, seorang muslim.

Kenapa mereka melancarkan teror di Marawi?
Dulu ada masanya MNLF, lalu MILF (Front Pembebasan Islam Moro). Setelah itu kondisi stagnan. Generasi muda tak lagi percaya generasi tua. Muncullah generasi kelompok revolusioner baru. Mereka membawa gaya perjuangannya sendiri. Bedanya, mereka berkaitan dengan atmosfer revolusioner di Timur Tengah dan Dunia Muslim.

Bagaimana hubungan Maute dengan Isnilon Hapilon?
Maute bersama Abu Sayyaf dan Bangsamoro Islamic Freedom Fighters (BIFF) berpartisipasi dalam gerakan Daesh (akronim bahasa Arab untuk ISIS). ISIS lalu menunjuk Isnilon Hapilon sebagai amir untuk mereka.

Saat Anda masih menjabat wali kota, di mana keberadaan kelompok Maute?
Kelompok Maute baru muncul 3-5 tahun lalu. Zaman saya dulu tidak ada kelompok seperti kelompok Maute saat ini. Cayamora Maute, ayah mereka, dulu adalah teman saya kuliah di Mindanau State University. Ibu mereka, Farhana Maute, teman kuliah saya serta kawan adik terkecil saya.

Apa motivasi kelompok Maute?
Ini virus internasional yang menulari dua bersaudara Maute saat mereka belajar di Timur Tengah. Mereka membawa ideologi baru ini dan menulari banyak orang, mungkin termasuk ayah dan ibu mereka, ha-ha-ha.

Di mana anggota kelompok Maute tersebar?
Awalnya mereka ada di Butig. Tapi sekarang ada di Marantau. Setidaknya di 15 kota, semua di Provinsi Lanao del Sur.

Kenapa Maute mengincar Marawi?
Butig sudah selesai. Mereka telah menghancurkan Butig, yang kini terbelah. Kini mereka mencari tempat lain. Teroris selalu mengincar lokasi yang bisa mendongkrak pemberitaan skala besar.

Apa tujuan terbesar mereka?
Anda tahu Maute radikal. Bagi mereka, hanya ada satu pemerintahan, yaitu khilafah. Satu khalifah, satu negara. Menurut mereka, pemuka agama saat ini, termasuk ulama, telah menurunkan derajat dan mempermalukan Islam. Mereka layak mati. Berbeda dengan gerakan revolusiover Islam sebelumnya, mereka punya kebebasan mutlak untuk menghancurkan tempat dan penduduk. Menurut mereka, itu semacam pembersihan.

Anda pernah terlibat dalam perundingan damai pemerintah dengan Maute?
Hanya sekali secara langsung pada November 2016. Saya berbicara dengan Omar dan Abdullah, menjelaskan bahwa dengan negara federal, umat muslim dapat mengatur kehidupan sendiri. Ini lebih dari otonomi. Tapi mereka tidak mempercayai saya.

Maute menolak konsep negara federal?
Mereka hanya percaya satu negara, satu pemimpin, satu hukum, yaitu hukum mereka.

Pemerintah hanya percaya pendekatan militer untuk menghadapi Maute?
Saat ini militer hanya punya dua pilihan untuk Maute: menyerah atau mati.

Sekuat apa kelompok Maute?
Kekuatan terbesar mereka anak-anak berusia 16-25 tahun. Saya kasihan dengan anak-anak itu, bahkan ada yang perempuan. Jumlah mereka 500-3.000. Kelompok bersenjata mereka 250 orang. Saya tidak tahu Marawi nanti seperti apa.

Copyright : tempo.co