Geliat Pasar Rakyat Marisa, Pohuwato Gorontalo Jelang Lebaran

Situasi Pasar Rakyat Marisa, Pohuwato, Gorontalo. Tampak pengemudi Bentor memenuhi ruas jalan, Minggu 18/6/2017. (foto/Zaki-PJ)

Lihat Juga:

POHUWATO, PJ – Geliat Pasar Rakyat Marisa yang berlokasi di Batupasang, Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo, Sulawesi itu, rupanya telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejak pasar itu berdiri tahun 2000-an.

Pasar Rakyat Marisa sebenarnya sudah tiga kali dipindahkan atau relokasi, yakni pada era 1960-an hingga tahun 1970-an, pasar itu lokasinya tepat ditengah kota Marisa yang sudah dibangun kantor Telkom.

Kemudian pada tahun 1980-an hingga tahun 2000-an, Pasar Marisa dipindahkan lagi tidak jauh dari pasar sebelumnya, kurang lebih 500 meter, masih termasuk Marisa Selatan.

Seiring berjalannya waktu, sejak berlakunya daerah otonom dan Gorontalo harus memisahkan diri dari Sulawesi Utara, Manado, Pasar Marisa pada tahun 2000-an, dipindahkan ke Batupasang. Hingga kini aktifitasnya sangat ramai dan terbilang sangat luas dibanding dengan pasar lainnya di Gorontalo.

Para pedagang pakaian, rempah-rempah dan lain-lainnya yang berasal dari beberapa wilayah Gorontalo memang mengincar pasar Marisa, apalagi jelang lebaran. Karena Pasar Marisa terbilang cukup ramai.

Pantauan porosjakarta.com pada Minggu (18/6/2017). rupanya tradisi pasar yang sejak awal beroperasi setiap hari Minggu itu masih terasa aktifitasnya, meskipun pada hari biasa aktifitas jual beli tetap ada.

“Pasar ini ramai setiap Minggu. Hari biasa ada juga, tapi tidak seramai hari Minggu, “ujar Aminudin Saleh (33) pada porosjakarta.com.

Diluar pasar, tampak pengemudi Bentor (Becak Motor) yang menjadi kendaraan angkutan khas Gorontalo, tampak memenuhi ruas jalan sedang antrian menunggu penumpang. Petugas pun sibuk mengatur lalu lintas. Hingga pukul 14.WITA warga masih sibuk belanja.

Situasi Pasar Rakyat Marisa, Pojuwato. (foto/Zaki-PJ)

Ketika masuk kedalam pasar, para pedagang pakaian bermodalkan suara khas, menawarkan dagangannya dengan harga obral murah antara 50 ribu rupiah hingga 150 ribu rupiah. Tidak salah jika pedagang itu diserbu pembeli.

“Ayo ibu-ibu, bapak-bapak ini harga murah cukup 50 ribu saja. Yang mau pakaian lebaran, silahkan pilih. Dipilih. Dipilih, “teriak salah seorang pedagang lewat microfon.

Sementara anak-anak dan Ibu-Ibu tampak semangat menawarkan sumbu lampu, harganya 5.000 rupiah dapat 10 sumbu untuk persiapan malam pasang lampu atau Tumbila Tohe.

“Sotidak ada Tohe Tutu (dulu getah kayu), sekarang lampu Padamala, “kata Susi Nano (54).

Dilokasi lain, tampak seorang ibu enggan ditanya soal harga bawang dan tomat serta cabe. Katanya, dia pusing ditanya-tanya apalagi sedang melayani pembeli.

 

Warga sibuk membeli kopiah untuk sholat di Pasar Rakyat Marisa, Pohuwato. (foto/Zaki-PJ)

“Aduh, jangan dulu batanya pak. Pusing ini, lagi balayani pembeli, “ujar Ibu itu dengan logat Melayu Gorontalo sambil mempersilahkan untuk bertanya pada rekannya. [PJ/Zaki]

Copyright : porosjakarta.com