Ini Rumah Tua Bersejarah, di Pohuwato Gorontalo Keluarga Albakir

Zubair Albakir dan rumah kakeknya, H. Agula Albakir, Kelurahan Pentadu Kecamatan Paguat Kabupaten Pohuwato Gorontalo. (foto/Zaki-PJ)

Lihat Juga:

POHUWATO, PJ – Satu lagi rumah tua bersejarah yakni, rumah panggung (Bele Wolihi) yang masih berada di wilayah Bumbulan Kelurahan Pentadu, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, sekitar kurang lebih 300 meter dari rumah tua H. Yunus Lie. Tampak depan rumah masih tertera tulisan disebuah papan kecil, H. A. Albakir (H. Agula Albakir).

Menurut cucu pertama, anak dari Buke Albakir (90-an) Zubair Albakir (50), rumah tersebut dia perkirakan lebih dulu dibangun dari rumah tua H. Yunus Lie (1914).

Agula Albakir, katanya merupakan tokoh yang disegani di wilayah Paguat. Orangnya saat itu menangani berbagai persoalan yang terjadi diwilayah Pohuwato.

Rumah Tua, H. Agula Albakir, Kelurahan Pentadu, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato Gorontalo, (foto/Zaki-PJ)

Maka dari itu, sebagai cucu pertama, bangga rumah kakeknya masih bisa dipertahankan keluarga besarnya hingga kini. Apalagi bentuknya itu asli zaman dulu. Zaman wilayah itu dikenal dengan nama Bumbulan sekarang kecamatan Paguat.

“Kebetulan rumah ini masih peninggalan kakek. Jangan sampai cucu kita tidak tahu. Saya bangga sama kakek saya yang membuka tanah Bumbulan ini, “ujar Zubair Albakir pada porosjakarta.com baru-baru ini.

Ia juga merasa bangga jika rumah ini lebih bagus lagi ditata dan dipelihara oleh dinas terkait Supaya anak cucunya mengetahui asal usul keluarga. Apalagi sebelumnya pernah ada pengecetan oleh Dinas Pariwisata atau cagar budaya dari Provinsi Gorontalo pada tahun 2003 lalu.

Rumah yang masih keluarga Agula, Ade Albakir yang sudah dijual ke warga keturunan. (foto/Zaki-PJ)

Tapi sekarang tidak ada lagi pemeliharaan. Zubair maunya juga jika rumah peninggalan kakeknya dijadikan sebagai cagar budaya. Baginya, penghargaan itu sangat membanggakan.

Sebuah bentuk kecintaan pada rumah peninggalan orang terdahulu, membuat dirinya tidak berani merubah bentuknya sedikit pun, apalagi sampai menjualnya. Zubair mengaku akan marah besar jika ada yang berani merubah rumah itu.

“Rumah ini juga pernah dirubah sedikit, saya langsung marah. Saya juga pernah marah rumah panggung yang disebelah masih keluarga (Ade Albakir) dijual ke warga keturunan, “ujar Zubair. [PJ/Abuzakir Ahmad]

Copyright : porosjakarta.com