Itikaf di Masjid Sunda Kelapa, Habiskan Malam Mengingat Tuhan

Metrotvnews.com, Jakarta: Ramadan merupakan bulan penuh berkah. Momentum yang tepat bagi umat muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Salah satunya melalui Itikaf atau berdiam diri di masjid dengan niat beribadah.

Itikaf di bulan Ramadan serupa pengobatan untuk menghilangkan dosa dan penyakit hati. Dulu, Nabi Muhammad SAW kerap beritikaf di 10 hari terakhir Ramadan.

Dan, umatnya pun kini berbondong-bondong mendatangi masjid untuk menghabiskan malam sambil bermunajah. Salah satunya terlihat di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.

Setiap 10 hari terakhir Ramadan, masjid ini menjadi tempat bagi para musafir yang ingin beribadah sepanjang malam. Ratusan orang datang dari berbagai penjuru Jakarta.

Di aula perempuan, tampak berbagai peralatan jemaah berjajar sepanjang dinding. Mulai dari mukena, Al-Quran, tas, pakaian, bantal, hingga boneka bagi mereka yang anaknya turut serta.

Di antara mereka, tampak seorang perempuan paruh baya, Endang Siti Maryani. Sudah empat malam terakhir, ia Itikaf di Masjid Agung Sunda Kelapa.

Endang memang tak pernah menghabiskan malam Ramadan di rumahnya di Bekasi. Ia selalu beribadah dan Itikaf di masjid sejak hari pertama Ramadan. Baginya, hal ini merupakan cara menenangkan pikiran.

“Kalau Itikaf itu jadinya tenang apalagi kalau ada masalah, jadi enggak ada pikiran macam-macam,” ujar Endang kepada Metrotvnews.com, Selasa 20 Juni 2017.

Ibadah Sepanjang Malam

Umumnya, jemaah yang hendak Itikaf di Masjid Agung Sunda Kelapa datang usai salat Ashar. Tak sedikit pula yang menginap dan pulang beberapa hari sekali untuk mengambil pakaian ganti.

Fasilitas di masjid ini cukup memadai. Karpet merah yang tebal tak hanya berfungsi sebagai alas salat, tetapi juga alas tidur jemaah. Ruangan pun dilengkapi pendingin untuk menghindari kesan pengap jika jemaah membeludak.

Di setiap aula, turut disediakan televisi yang terhubung dengan suasana mimbar dan imam. Ada pula layar proyektor yang akan menampilkan ayat suci Alquran dan informasi lainnya saat tadarus bersama.

Ibadah berjemaah di masjid ini biasa dimulai dengan tadarus sekitar pukul 17.00 WIB. Komando dari qari atau pembaca Alquran pun langsung diikuti jemaah yang membuka kitab sucinya masing-masing.


Sejumlah jemaah beritikaf di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta. Foto: Lis Pratiwi/MTVN

Kegiatan ini dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Pihak Masjid Sunda Kelapa menyiapkan sedikitnya 1.000 kotak makanan setiap hari buat jemaah.

Dilanjutkan kembali dengan salat Magrib berjemaah, salat Isya, kemudian salat Tarawih 20 rakaat tanpa salat Witir. Usai Tarawih, jemaah dipersilahkan beristirahat atau ibadah sendiri-sendiri.

Sekitar pukul 24.00 WIB, jemaah akan dibangunkan untuk mengikuti salat malam berjemaah yakni salat Tahajud delapan rakaat diikuti salat Witir tiga rakaat. Kegiatan dilanjutkan dengan ceramah hingga sahur dan waktu Subuh menjelang.

Namun, ada tradisi berbeda dari Itikaf di masjid ini. Saat salat malam dimulai, semua lampu termasuk televisi akan dimatikan. Hanya suara imam dari mikrofon yang terdengar.

Hal ini kian menambah suasana khusyuk dan khidmat ibadah yang dilakukan. Bahkan, semua jemaah menangis karena saling introspeksi diri dan begitu menikmati ibadah yang tengah dijalani.

“Benar-benar hening. Semua menangis sampai terisak-isak. Tidak ada yang tidak menangis karena betul-betul menikmati seolah jiwa kita benar sampai, seperti menyatu sama Allah,” jelas Endang.

Rutin Sejak 2007

Endang mengaku Itikaf di masjid rutin ia lakukan sejak tahun 2007, atau sejak ia pulang usai bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi.

Saat itu, Endang yang sejak kecil kental dengan kepercayaan Kejawen mulai mengenal Islam lebih dalam. Ia pun mulai berhijab dan rutin mengerjakan salat.

Kendati Itikaf di Masjid Sunda Kelapa baru dilaksanakan sepuluh hari terakhir Ramadan, Endang mengaku ia telah Itikaf sejak awal Ramadan di masjid berbeda, yakni Masjid Istiqlal.

Namun, menurutnya ia lebih senang berada di Masjid Sunda Kelapa karena letak kamar mandi lebih dekat dengan ruang salat, sehinga memudahkan pergerakan orang tua sepertinya.


Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta. Foto: Lis Pratiwi/MTVN

Ruangan di Masjid Sunda Kelapa yang tak seluas Istiqlal juga membuat jemaah lebih dekat dan kekeluargaan. Terlebih, mayoritas jemaah berusia 45 tahun ke atas.

“Lebih senang di sini (Masjid Sunda Kelapa), lebih sreg. Pertama karena sejuk dan adem, kedua damai karena banyak ibu-ibu,” tambah Endang.

Endang mengaku sejak empat hari terakhir ia akan kembali ke rumahnya usai salat Subuh dan berangkat lagi ke masjid jelang salat Ashar. Namun, mulai malam ini ia akan terus berada sepanjang hari di masjid untuk lebih lama beribadah dan menghabiskan malam mengingat Tuhan.

(AZF)

Copyright : metrotvnews.com