Jenderal Soedirman

Jenderal Besar Soedirman
Jenderal Besar Soedirman

Bekasi (WartaMerdeka.id) – Jenderal Besar Raden Soedirman adalah Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia sangat dihormati di Indonesia, terutaama di kalangan Militer. Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi semenjak di bangku pendidikan. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, dan menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.

Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Kemudian Soedirman ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat.

Pada 24 Agustus, sesudah dektrit pertama diumumkan, berangkatlah para mahasiswa yang diberi tugas ke daerah-daerah, untuk bersama Pemerintah setempat dan tokoh-tokoh masyarakat membentuk KNI Daerah, dan bersama dengan bekas PETA dan Heiho setempat membentuk BKR, dengan pesan agar merebut senjata dari Jepang. Sementara itu, Moeljo Hartrodipuro dan Soejono Ms ditugaskan untuk menyerahkan pengangkatan Pak Soedirman sebagai Komandan BKR Poerwokerto, juga untuk pengangkatan Residen Iskak dan Bupati Ganda Soebrata, Soeprapto sebagai Ketua Seinendan di Poerwokerto (Hal. 122, hal 120)

Pada 20 Oktober, Soedirman membentuk pasukan, yang kemudian dijadikan bagian dari Divisi V  oleh Panglima sementara Oerip Soemohardjo, sementara Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut.

Pada 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff.

Sementara menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris, dan Belanda di Ambarawa. Melalui pertempuran ini, mengakibatkan penarikan diri tentara Inggris, yang berdampat pada semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman,

Pada 18 Desember, Soedirman diangkat sebagai Panglima Besar.

Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia.

Soedirman juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Dirinya kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.

Pada 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan.

Padamulanya pasukan Soedirman diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil lolos, dan mendirikan markas sementara di Sobo, dekat Gunung Lawu. Dari tempat inilah, Soedirman mampu memberikan perintah kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

Saat Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Walaupun Soedirman tetap ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, tetapi ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC-nya kambuh; ia pun pensiun, dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat lebih kurang satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Bendera setengah tiang dikibarkan dimana-mana, ribuan orang mengiringi prosesi upacara pemakaman.

Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi Tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometre (62 mil) yang ditempuhnya dahulu, harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer.

Soedirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen.

Pada 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Sumber : Buku “Lahirya Satu Bangsa dan Negara – Penerbit Universitas Indonesia”, “Mahasiswa ’45 Prapatan-10: Pengabdiannya 1 – Penerbit Padma Bandung”,  dan berbagai sumber (SM)

Foto : Istimewa