Kenapa Perempuan Ini Merinding Jualan Kembang Ziarah ?

Dede (kiri) bersama Mbah Fatimah, Jualan kembang ziarah di TPU Kampung Mangga, Jalan Plumpang Semper, Tugu Utara, Koja Jakarta Utara, Kamis 25/5/2017. (foto/Zaki-PJ)

KOJA, PJ – Menyambut bulan suci Ramadhan, membuka rezeki buat penjual kembang musiman memenuhi pinggiran, Jalan Plumpang Semper tepat didepan Taman Pemakaman Umum (TPU)  Kampung Mangga, Tugu Utara, Koja Jakarta Utara.

Menurut Dede (22) penjual kembang dan air mawar, mengaku, berjualan kembang dimulai dua Minggu sebelum bulan puasa dan seminggu sebelum Hari Raya Idul Fitri.

“Saya jualan kembang di TPU Kampung Mangga sejak tahun 2012. Saat saya baru lulus SMA, “kata Dede pada porosjakarta.com, Kamis (25/5).

Perempuan yang menikah dengan Muallaf, Khaidir (29), mengaku tertarik berjualan kembang karena mudah dicari dan paling laku jualnya. Apalagi jelang Ramadhan, banyak yang berziarah ke kuburan.

Berjualan kembang tidak membuatnya malu, ia malah merasa bangga. Karena pekerjaan seperti ini yang penting halal dan tidak menipu. Bisa membantu suami yang juga tukang parkir di TPU Kampung Mangga.

Penghasilannya, jika modal 300 ribu rupiah, maka pendapatannya sekitar 400 ribuan sampai habis. Kalau tidak laku dan layu langsung dibuang. Ia berusaha cari modal untuk bisa bangun kios jualan kembang.

Satu hal keistimewaan baginya, ketika menjual kembang yakni, ingat tentang kematian. Dan suatu saat nanti, Dede yang beberapa kali khatam Qur’an, akan ditaburi kembang oleh kerabatnya juga.

“Saya jadi ingat sesuatu hal dari keluarga dan tetangga. Saya juga lebih sadar dan merinding, “tambahnya.

Kembang juga menyadarkan sesuatu, bersikap positif dan berbuat adil untuk bulan suci Ramadhan ini. Terhadap suaminya, Dede mengajar untuk baca Alquran

“Alhamdulillah, Suami saya yang muallaf sudah bisa baca Alqur’an, “tukas Dede. [PJ/Zaki]

Copyright : porosjakarta.com