Kisah Tragis Wikana sang Penculik Soekarno

Wikana

Salah Satu Peran Kunci Proklamasi RI 1945

Jakarta (WartaMerdeka.id) – SETIAP gerakan kemerdekaan di sebuah bangsa, tak bisa dilepaskan dari peran para pemudanya. Tak ketinggalan di Indonesia, saat kemerdekaan 17 Agustus 1945, sejumlah pemuda turut memainkan peran penting. Salah satunya adalah pemuda bernama Wikana. Lahir di Sumedang (Jawa Barat), 16 Oktober 1914, Wikana sejak muda sudah sering melakukan kegiatan yang menentang kehadiran kaum penjajah (terutama Jepang atau Belanda).

Dari enam belas bersaudara, ada tiga nama dalam keluarga pasangan Raden Haji Soelaeman-Nonoh ini yang dikenal jaman pergerekan pra kemerdekaan. Pertama, Winanta, kemudian Rukmanda, lalu baru Wikana. Ketiganya dikenal pegiat anti penjajah yang lebih memilih perjuangan bersama Partai Komunis Indonesia.  Kedua kakaknya gugur lebih dulu sebelum kemerdekaan karena prinsip perjuangannya. Wikana sendiri, pun terlibat aktif melalui jaringannya di bawah tanah melawan penjajah.

Setelah PKI dinyatakan organisasi terlarang pada 1927 oleh Belanda, memang sejumlah tokoh pemuda seperti Amir Syarifuddin, Adam Malik, Chairul Saleh, Wikana dan lain-lain, memilih berjuang secara tersembunyi. Karena perjuanganya yang sangat radikal, Wikana pun bisa kenal dekat dengan Soekarno dan Hatta di masa itu.

Saat pendudukan Jepang, ia aktif di beberapa organisasi pemuda. Diantaranya Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) serta Angkatan Pemuda Indonesia (API). Ia juga sempat ditahan oleh penjajah Belanda sebelum kemerdekaan. Saat Jepang masuk Indonesia, Wikana pun menghirup udara bebas. Ia secara lihai berganti indentitas dan nama menjadi Sunarto serta menjadi “agen” di Angkatan Laut Jepang (Kaigun) bersama Ahmad  Subardjo.

Menjelang Agustus 1945, ketika kondisi Jepang di dunia terjepit  oleh kekuatan Sekutu, pihak Kaigun memberikan sedikit keleluasaan bagi pemuda Indonesia untuk “melek politik”. Dibukalah semacam kursus pergerakan Indonesia Merdeka.  Dan di saat itu, ada tiga nama atau tempat di mana banyak pemuda aktif merangcang untuk proklamasi, seperti  Asrama Menteng 31, Asrama Indonesia Merdeka, dan Asrama Cikini 71. Wikana lebih banyak bergerak di Menteng , yang kini menjadi tempat bersejarah dengan nama Gedung Juang. Wikana di sini ditunjuk sebagai Kepala Sekolahnya.

Bahkan ketika mendengar Jepang sudah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, Wikana bersama pemuda lainnya memaksakan kepada Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Karena saat itu waktu yang tepat. Tetapi, Soekarno yang didatangi Wikana dan kawan-kawan ternyata belum bersedia. Puncaknya, terjadilah “penculikan” Soekarno-Hatta untuk dibawa ke Rengasdengklok. Pada subuh 16 Agustus. Maksudnya, karena di Jakarta suasana belum aman, maka pengumuman proklamasi bisa dikumandangkan di Rengasdengklok, Jawa Barat.

Soekarno-Hatta memang akhirnya mau memproklamasikan Indonesia. Hanya saja, keinginan Soekarno-Hatta tetap di Jakarta dan atas pengetahuan Jepang. Jadilah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dilanjutkan di rumah Laksamana Maeda, Komandan Kaigun, di Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta (sekarang menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi).  Keesokannya, barulah pada 17 Agustus jam 10 Indonesia memproklamirkan kemerdekannya.

Kembali ke sosok Wikana, ia menjadi salah satu tokoh kunci dari sederet pemuda menjelang detik-detik proklamasi. Patungnya masih ada di Menteng 31, tempat ia banyak menghabiskan waktunya menjelang kemerdekaan.

Nasib tragis menimpa dirinya pada pertengahan 1966. Ia diculik oleh sekelompok tentara tanpa identitas dari kediamannya di Jalan Dempo 7A, Jakarta. Setelah penculikan itu, keluarganya tidak tahu lagi nasib Wikana hingga kini Indonesia merdeka pada usia 70tahun. Dimana Wikana? Patutkah seorang pemuda yang mengabdikan segala jerih paya hanya  untuk kemerdekaan Indonesia (pernah menjabat Menteri Negara Pemuda 1947-48, Gubernur Militer Solo 1948) lalu tidak jelas rimbanya? (Taruna).