Kondisi Lapangan Menurun, Target Lifting RAPBN Agak Sulit Tercapai

Menteri ESDM Ignasius Jonan. (MI/Panca Syurkani).

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agak pesimistis terhadap target lifting minyak yang dicantumkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018.

Dalam postur RAPBN lifting minyak berkisar 771 ribu-815 ribu barel per hari (bph). Namun, Menteri ESDM Ignasius Jonan menuturkan target maksimal 815 ribu bph agak sulit tercapai. Sehingga lifting tahun depan hanya sekitar 800an ribu bph.

“Tahun ini targetnya 815 agak turun, karena kondisi lapangan turun,” kata Jonan di Jakarta, Rabu 16 Agustus 2017.

Jonan menuturkan, kisaran target lifting sulit tercapai karena program penerapan teknologi Enganched Oil Recovery (EOR) belum banyak digunakan. Teknologi EOR dapat digunakan ketika harga minyak tinggi. Sementara harga minyak dalam RAPBN 2018 hanya USD48 per barel.

“Karena EOR dengan kondisi harga minyak sekarang di bawah USD50 sekarang rata-rata USD48 per barel, EOR tidak terlalu menarik,” ucap dia.

Begitu juga dengan kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) gross split. Jonan menyebut, PSC gross split tidak berperan signifikan terhadap lifting tahun depan. Sebab, investasi migas yang akan masuk juga tidak terlalu besar. Apalagi kondisi harga minyak belum pulih.

“Sebenarnya mau di dorong cost recovery gros split itu minat investasinya tidak akan besar,” pungkas dia.

Dalam nota keuangan, Presiden Joko Widodo menyebutkan, lifting minyak bumi dalam RAPBN 2018 sebesar 771-815 ribu barel per hari, dan lifting gas bumi 1.194 ribu-1.235 ribu per barel. Sementara harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) USD48 per barel.

(SAW)

Copyright : metrotvnews.com