Krisis Qatar Berlanjut, Al Jazeera Alami Peretasan Besar-Besaran

Jum’at, 09 Juni 2017 | 06:30 WIB

Krisis Qatar Berlanjut, Al Jazeera Alami Peretasan Besar-Besaran

Al-Jazeera. Chicagonow.com

TEMPO.CO, Jakarta -Doha—Media Qatar, Al-Jazeera, mengaku mengalami peretasan besar-besaran yang menyasar seluruh platform yang mereka miliki.

“Al Jazeera Media Network mengalami peretasan pada semua platform yang ada, mulai dari situs web dan platform media sosial,” demikian pernyataan resmi jaringan itu melalui akun Twitter mereka, Jumat 9 Juni 2017.

Baca: Umat Kristen di Qatar Mohon Doa dari Masyarakat Internasional

Setelah pengumuman, muncul pernyataan baru yang mengungkapkan bahwa  Al-Jazeera mengalami serangan menyusul peningkatan peretasan yang menyasar jaringan mereka selama dua pekan terakhir.

“Tim kami telah bekerja keras untuk memastikan semua pengguna kami terlindungi dan sistem beroperasi dengan normal.”

Setelah laporan awal serangan peretasan, beberapa pemirsa di wilayah tersebut mengaku tidak dapat lagi menerima siaran televisi Al-Jazeera.

Al-Jazeera, adalah salah satu organisasi berita terbesar di dunia, dan telah lama menjadi dituding sumber konflik antara Qatar dan tetangganya. Media ini dituding melakukan pemberitaan bias dan menimbulkan masalah di wilayah tersebut.

Ketegangan yang berlangsung lama akhirnya menjadi konflik terbuka bulan lalu, setelah Qatar mengklaim situs berita negaranya diretas oleh pihak yang tidak dikenal.

Akibat dugaan peretasan itu, muncul berita palsu pernyataan Emir Qatar mengenai dukungan negaranya terhadap Iran dan kelompok Hamas Palestina.

Pernyataan itu menuai kontroversi bagi negara-negara Teluk lain yang menganggap Iran sebagai musuh bebuyutan.

Baca: Krisis Qatar, Uni Emirat Arab Ancam Embargo Ekonomi

Puncak ketegangan terjadi ketika Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain dan sekutu lainnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada pekan ini.

Negara-negara itu menggunakan dalih adanya pendanaan Doha terhadap kelompok ekstremis dan hubungan dengan Iran, sebagai negara saingan utama Arab Saudi, untuk memutus hubungan diplomatik.

Awal bulan ini, Qatar mengatakan Biro Penyelidikan Federal (FBI) membantu menyelidiki sumber dugaan peretasan tersebut.

Selanjutnya, muncul laporan di media yang menunjukkan bahwa Qatar telah menjadi target peretasan Rusia. Namugaan peretasan terhadap media Qatar telah dibantah oleh Moskow.

 AL JAZEERA | REUTERS | THE INDEPENDENT | SITA PLANASARI AQUADINI

Copyright : tempo.co