Krisis Qatar: Saudi marah setelah pemimpin Qatar menelepon

DohaHak atas foto Carlo Allegri/Getty

Arab Saudi mengatakan telah menghentikan dialog dengan Qatar tidak lama setelah ada percakapan melalui telepon antara pemimpin Qatar dan pangeran mahkota Arab Saudi.

Kedua negara telah menggelar pembicaraan untuk menyelesaikan krisis Qatar, setelah sejumlah negara Timur Tengah -antara lain Arab Saudi, Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat Arab- memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Namun, Arab Saudi kemudian menyalahkan Qatar mendistorsi fakta seputar penyelesaian krisis itu, dan mengatakan bahwa pihaknya akan mengkahiri pembicaraan.

Empat negara yaitu Arab Saudi, Mesir, Bahrain dan Uni Emirat Arab menuduh Qatar mendukung terorisme -sebuah tuduhan yang sejak awal dibantah oleh Doha.

Alasan itulah yang menyebabkan empat negara Arab itu memutus hubungan diplomatik dengan Qatar pada 5 Juni lalu.

Hak atas foto Sean Gallup/Getty
Image caption Suasana di pusat bisnis ibu kota Qatar, Doha, akhir Oktober 2011.

Arab Saudi menutup perbatasannya dengan Qatar, dan empat negara itu kemudian menutup hubungan udara dan laut dengan negara tersebut.

Pembicaraan melalui telepon yang dilakukan pada Jumat itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump berbicara secara terpisah dengan kedua belah pihak.

Langkah ini awalnya dipandang sebagai terobosan yang mungkin dilakukan untuk menyelesaikan krisis tersebut.

Pembicaraan melalui saluran telepon ini merupakan kontak formal pertama antara Riyadh dan Doha sejak krisis diplomatik pada awal Juni lalu.

Media resmi pemerintah dari kedua pihak melaporkan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani dan Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, telah mendiskusikan perlunya dialog untuk menyelesaikan krisis tersebut.

Hak atas foto AFP
Image caption Empat negara memutus hubungan dengan Qatar sejak Juni lalu karena negara itu dianggap mendukung terorisme.

Badan Pers Arab Saudi mengatakan bahwa pemimpin Qatar “menyatakan keinginannya untuk duduk di meja dialog dan membahas tuntutan keempat negara”.

Dan rincian lebih lanjut akan diumumkan setelah Arab Saudi mencapai kesepakatan dengan Bahrain, Mesir dan Uni Emirat Arab.

Sementara itu, Qatar News Agency mengatakan bahwa putra mahkota Arab Saudi mengusulkan untuk menetapkan “dua utusan demi menyelesaikan masalah kontroversial dengan cara yang tidak mempengaruhi kedaulatan negara”.

Tidak lama kemudian, Arab Saudi menuduh Qatar tidak “serius” perihal dialog itu, dan mengatakan bahwa komunikasi antara kedua belah pihak akan ditangguhkan.

Sepertinya perselisihan ini dilatari masalah di seputar protokoler. Pengamat mengatakan Arab Saudi marah karena media negara Qatar tidak menjelaskan bahwa seruan tersebut diprakarsai oleh Doha.

Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan Uni Emirat Arab, yang memblokade Qatar, telah mengajukan daftar yang harus dipatuhi Qatar jika ingin sanksinya dicabut.

Diantaranya Qatar diminta menutup stasiun berita Al-Jazeera dan mengurangi hubungan dengan Iran.

Negara-negara tersebut menuduh saluran televisi yang didanai pemerintah Qatar itu mendorong ekstremisme, sebuah tuduhan yang sejak awal ditolak Al-Jazeera.

Upaya diplomatik yang dipimpin Kuwait dan didukung oleh negara-negara Barat sejauh ini gagal mengakhiri perselisihan tersebut.

Sumber RSS / Copyright : bbci.co.uk