Menyantap Bubur Samin, sajian buka puasa asal Kalimantan di Solo

bubur saminHak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Warga Solo dan sekitarnya antre untuk mendapatkan bubur samin di Masjid Darussalam secara cuma-cuma.

Bubur samin menjadi salah satu santapan berbuka puasa di Masjid Darussalam, Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, Jawa Tengah. Bubur ini lekat dengan jejak perantau asal Banjar, Kalimantan Selatan.

Waktu berbuka puasa masih beberapa jam lagi. Namun, pada pukul 10.00 WIB, keriuhan sudah terdengar di depan serambi Masjid Darussalam.

Keriuhan tersebut berasal dari aktivitas rutin panitia masjid yang memasak 1.100 porsi bubur samin untuk jemaah saat berbuka puasa. Mereka meracik beragam bumbu rempah seperti bawang merah, bawang putih, kayu manis, jahe, sere, laos, kapulaga Arab dan minyak samin.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Untuk membuat 1.100 porsi bubur samin diperlukan 45 kilogram beras setiap hari.
Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Dua ibu memeras santan yang hasilnya kemudian dimasukkan ke dalam bubur.
Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Santan dimasukkan ke dalam bubur.

Seusai salat Dzuhur, puluhan anggota panitia masjid mulai menyalakan api guna memasak 45 kilogram beras menjadi bubur. Bumbu-bumbu rempah yang sudah dimasak, kemudian dimasukkan dalam dandang berukuran besar dan dicampur dengan beras dan air.

Karena mengaduk nasi menjadi bubur merupakan pekerjaan yang melelahkan, mereka silih berganti mengaduk. Setelah diaduk selama dua jam, sayuran wortel, bawang bombay, daun loncang serta irisan daging sapi dimasukkan ke dalam dandang.

Aroma bubur samin mulai tercium sejak pukul 14.00 WIB. Selepas itu, warga mulai berdatangan untuk mendapatkan bubur samin. Mereka menenteng rantang. Rata-rata dari mereka membawa dua rantang.

Tak lama setelah beduk penanda salat Ashar berkumandang, panitia memberi aba-aba. Satu persatu warga langsung berbaris untuk antre mendapatkan bubur samin. Sendok demi sendok berisi bubur dituangkan ke rantang yang dibawa para warga. Pembagian secara gratis ini dilakukan berulang-ulang hingga seluruh warga yang antre mendapat jatah.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Sejumlah sayuran dirajang untuk bahan campuran bubur samin.
Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Selain sayur dan rempah, bubur samin menggunakan potongan daging sapi.

Ketua Takmir Masjid Darussalam, HM Rosyidi Muchdlor mengungkapkan tradisi pembagian bubur samin sudah dimulai sejak 1965. Bubur samin pada awalnya hanya menjadi hidangan buka puasa di masjid.

“Mulai tahun 1980-an bubur samin go public. Semua masyarakat bisa mendapatkan bubur samin. Tidak hanya untuk keluarga kurang mampu, tetapi semuanya, ” ujarnya kepada wartawan Fajar Sodiq ketika ditemui di Masjid Darussalam, Selasa (6/6).

Sejak satu dekade terakhir, Masjid Darussalam tak absen membagikan 1.100 porsi bubur dengan rincian 900 porsi dibagikan kepada masyarakat untuk dibawa pulang dan 200 porsi sisanya untuk berbuka di masjid.

Dana pembuatan sebesar Rp85 juta berasal dari jemaah dan donatur yang tersebar di berbagai daerah, yaitu dari Malang, Tulungagung, dan Majenang.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Karena mengaduk nasi menjadi bubur merupakan pekerjaan yang melelahkan, panitia masjid silih berganti mengaduk.

Kisah perantau

Asal-usul bubur samin tak terlepas dengan keberadaan pedagang permata asal Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ke Kota Solo. Mereka merantau ke Solo sejak 1890. Mereka umumnya bermukim di Kampung Jayengan, tak jauh dengan pusat perdagangan masa itu, Pasar Klewer.

“Makanya karena banyak berkumpul pedagang permata, Jayengan disebut kampung permata, ” kata Rosyidi Muchdlor.

Hak atas foto Alamy
Image caption Bubur Samin siap dibagikan.
Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Masjid Darussalam tak absen membagikan 1.100 porsi bubur dengan rincian 900 porsi dibagikan kepada masyarakat untuk dibawa pulang dan 200 porsi sisanya untuk berbuka di masjid.

Para perantau bukan sekadar berdagang, mereka juga membawa serangkaian tradisi dari Kalimantan. Bahkan mereka secara berkelompok membangun surau yang pada kelanjutannya menjadi Masjid Darussalam.

Salah satu tradisi yang dibawa adalah membuat hidangan menggunakan bumbu khas Banjar, yaitu minyak samin. “Jadilah bubur samin yang selalu ada memanjakan lidah untuk berbuka puasa, ” kata dia.

Ayu, salah satu warga asal Sukoharjo, mengaku setiap bulan Ramadan selalu menyempatkan untuk datang ke Masjid Darussalam untuk mendapatkan pembagian bubur samin secara cuma-cuma. Dalam satu pekan biasanya mendatangi masjid ini sebanyak dua kali.

“Setiap bulan puasa selalu kesini karena rasa buburnya enak. Kadang dalam satu minggu bisa dua hingga tiga kali ikut antre bubur di Jayengan,” tandasnya.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Asal-usul bubur samin tak terlepas dengan keberadaan pedagang permata asal Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ke Kota Solo.

Copyright : bbci.co.uk