Mereka yang ‘bersahabat’ dengan banjir di tepi Ciliwung sejak ‘zaman nenek moyang’

Korban banjir Kampung Pulo memilih bertahan di rumahnya daripada mengungsi Korban banjir Kampung Pulo memilih bertahan di rumahnya daripada mengungsi.

“Nek, lihat itu punya aku,” tunjuk Laila, bocah perempuan berusia 10 tahun ke neneknya yang ada di sampingnya. Yang ditunjuk adalah sebuah mainan plastik yang hanyut di bawah mereka.

Laila bersama neneknya Muneh (63 tahun) sedang menghabiskan waktu bercengkerama di balkon sempit lantai dua rumahnya di Gang Anwar, Jatinegara, Jakarta Timur. Lantai satu rumah mereka terendam air setinggi satu meter.

Bertiga bersama adiknya, Adnan (5), mereka hanya bisa memandangi cokelatnya air banjir yang membawa sejumlah sampah terapung di bawah mereka. Tak ada yang bisa mereka lakukan ketika rumahnya dikepung banjir.

Rumah mereka yang berada di Kampung Pulo, Jatinegara, terendam banjir sejak Selasa (06/02) dini hari. Muneh memutuskan tidak mengungsi dan tinggal di rumahnya karena punya lantai dua yang, “masih bisa ditempati.”

Di rumah kayu berukuran 4 X 12 itu, Muneh tinggal bersama suaminya dan dua anak, dua menantu, dan empat orang cucu. Mereka memilih bertahan dan tetap tinggal di rumah karena sudah terbiasa dengan banjir.

Muneh sepanjang umurnya lebih dari enam dekade ‘menikmati’ banjir sebagai rutinitas tahunan yang kerap terjadi. Bahkan ia tak ingin pindah dari rumahnya yang ada persis di samping inspeksi Kali Ciliwung itu.

“Kami sudah betah tinggal di sini,” kata Muneh, yang diamini juga oleh suaminya Abbin (67 tahun). Kedekatan dengan tetangga dan jalinan kekerabatan menjadi alasan mereka tidak mau pindah. Menurut dia, banyak warga Kampung Pulo yang saling menikah sehingga hampir semua punya kedekatan kekeluargaan.

Muneh dan Abbin adalah contohnya. Mereka adalah tetangga yang kemudian menikah. Mereka lahir dan besar di Kampung Pulo dan sudah terbiasa dengan banjir tahunan sejak kecil. Karena sudah terbiasa itu, mereka sudah siap ketika banjir menerjang.

Menurut Abbin, mereka mendapatkan info bakal banjir dari berita televisi. Selain itu, RS Hermina yang ada di dekat rumahnya juga memberikan peringatan lewat pengeras suara bahwa pintu air Katulampa dan Depok sudah berada di titik Siaga I. “Ada pengumuman seperti itu, kami langsung siap-siap,” kata dia.

Mereka lantas mengepak semua barang yang ada di lantai satu dan membawanya ke atas. Ketika air tiba pukul 02.00 dinihari, mereka sudah selesai mengungsikan semua barang mereka ke atas, termasuk kompor dan persediaan makanan dan minuman.

Bagaimana dengan kebutuhan buang air kecil dan buang air besar? “Kami harus ke toilet umum yang ada di ujung sana. Di situ tidak kena banjir,” kata Abbin menunjuk arah yang dimaksud.

Kebiasaan menerima banjir itu kini ditularkan ke cucunya. “Mereka juga menikmati. Mau bagaimana lagi,” kata Abbin. Di genangan air yang bercampur dengan sampah di area banjir Kampung Pulo, gampang ditemui anak-anak yang sedang bermain.

Mereka bermain air dengan sesama temannya, berenang, dan bercanda layaknya sedang berada di kolam renang buat sarana hiburan. Bedanya, anak-anak tepi Ciliwung ini bertemankan sampah yang terapung dan air yang cokelat dan keruh.

Selain Abbin dan Muneh, warga Kampung Pulo lainnya juga mengakui hal yang sama; bahwa banjir adalah rutinitas yang selalu mereka hadapi. Mereka tetap tinggal di Kampung Pulo karena sudah terbiasa dengan banjir.

Andrean, warga RT 14 RW 02 Kampung Pulo bahkan mengatakan, banjir juga membawa ‘berkah’ bagi mereka. “Kami jadi kompak dan ada rasa kekeluargaan,” kata pria 45 tahun itu.

Sama seperti Muneh, Andrean juga menularkan kebiasaan menghadapi dan bersahabat dengan banjir ke dua anaknya. “Itu anak saya sedang main air,” ia menunjuk ke putranya yang berumur tujuh tahun.

Berkah lain dari banjir, kata Andrean, “Anak umur lima tahun di kampung sini sudah bisa berenang.”

Selain karena kekerabatan dan kekeluargaan yang tercipta di kampung mereka, para korban banjir ini sejatinya tidak punya pilihan lain. Mereka kebanyakan adalah dari keluarga tidak mampu.

Seperti yang diutarakan Rusmiyati, warga RT 15 RW 02 Kampung Pulo, ia sebenarnya ingin pindah, tapi tidak punya pilihan lain. Menjual rumahnya di Kampung Pulo itu nyaris tidak ada nilai dan harganya.

“Butuh menjual sepuluh rumah di Kampung Pulo untuk bisa membeli satu rumah di pinggiran Jakarta,” kata Rusmiyati. Perempuan 48 tahun itu tinggal serumah dengan suami, anak, menantu, dan dua orang cucunya.

Di Jakarta, ada beberapa wilayah yang memang selalu langganan banjir ketika hujan deras melanda area Puncak sehingga membuat debit air Kali Ciliwung meningkat drastis. Selain Kampung Pulo, ada Cipinang, Kramatjati, Tebet, Matraman, Bidara Cina, Pejaten Timur dan Kampung Melayu.

“Banjir meliputi 141 RT dan 49 RW di 20 kelurahan pada 12 kecamatan di Jakarta Timur, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. Ribuan rumah terendam banjir,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. Total ada 11.450 jiwa terdampak banjir.

Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika memperkirakan hujan lebat masih akan berlangsung hingga awal Maret 2018 mendatang. Bahkan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi berpotensi hujan dengan intensitas antara sedang hingga lebat.

“Diperkirakan hingga Maret 2018 wilayah Indonesia masih berada pada periode puncak musim hujan,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam pernyataan publiknya.

Informasi itu tak berarti banyak bagi Muneh, cucu-cucunya dan warga Kampung Pulo lainnya. Mereka tetap tidak akan beranjak dari rumah mereka dan memilih menyambut air bah yang tiba. “Banjir begini sudah dari jaman nenek moyang,” kata Rusmiyati.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Sumber RSS / Copyright : bbci.co.uk