Militan Afiliasi ISIS Eksekusi Warga Sipil di Marawi

Metrotvnews.com, Marawi: Sejumlah mayat yang terlihat seperti dieksekusi mati telah ditemukan di sebuah jurang di luar sebuah kota di Filipina yang terkepung selama pendudukan enam hari oleh sekelompok militan. 

Baku tembak antar militan dengan pasukan keamanan masih terjadi hingga saat ini di kota Marawi, Mindanao.

Delapan orang tewas, sebagian besar ditembak di kepala dan beberapa di antaranya dengan tangan terikat ke belakang punggung. Mereka adalah para buruh yang disergap oleh gerilyawan terafiliasi Islamic State  (ISIS) di pinggiran Kota Marawi saat mencoba melarikan diri dari bentrokan.

Sembilan selongsong peluru sisa ditemukan di jalan setapak bernoda darah di puncak jurang. Melekat pada salah satu jenazah itu sebuah tanda kata-kata, berbunyi: “Munafik” (pengkhianat).

Penemuan delapan jasad pada Minggu 28 Mei 2017 ini mengonfirmasi spekulasi bahwa pemberontak Maute sudah membunuh warga sipil selama pengambilalihan kota Marawi. — Eksekusi ini diduga otoritas Filipina sebagai sebuah langkah untuk memantik pengakuan dari kelompok ISIS.

Angkatan Darat mengerahkan pasukan tambahan sepanjang pekan ini, dan juga mengirim helikopter guna melancarkan serangan roket ke posisi Maute di Marawi. Sedikitnya 41 militan tewas dan 13 tentara pada Sabtu 27 Mei.

Laporan terbaru dari Militer Filipina mengatakan sejumlah militan telah menewaskan 19 warga sipil dalam baku tembak dengan aparat keamanan di kota Marawi.

Selasa 23 Mei 2017, Duterte menerapkan status darurat militer di Mindanao, rumah dari 20 juta orang, setelah terjadinya bentrokan berdarah antara militan dengan petugas keamanan di kota Marawi. 

Ia menyebut militan di Marawi berusaha mendirikan kekhilafahan untuk ISIS.


Petugas keamanan berpatroli di kota Marawi. (Foto: AFP)

Siapa militan Maute?

– Maute adalah kelompok Muslim bersenjata yang mendeklarasikan kesetiaan kepada ISIS.

– Isnilon Hapilon dari grup ekstremis Abu Sayyaf dilaporkan menunjuk pemimpin dari aliansi tersebut.

– Maute telah dituding atas serangan bom yang menewaskan 15 orang di kota Davao selatan, kampung halaman Duterte, September lalu.

– Bulan lalu, tentara membunuh puluhan militan Maute dan merebut kamp hutan mereka di dekat kota Piagapo, Lanao del Sur.

– Pasukan menemukan bom rakitan, granat, seragam tempur, dan paspor tersangka militan Indonesia di kamp tersebut, kata militer.

Kelompok Maute yang kurang dikenal itu pernah melakukan pengepungan serupa di Pulau Mindanao. Namun tidak pernah dalam skala besar seperti di Marawi, di mana saksi mengatakan bahwa bendera yang menyerupai bendera ISIS telah dikibarkan.

Tahun lalu, Maute menewaskan 14 orang dalam sebuah pengeboman di Davao, kota asal Presiden. Kemampuan perangnya merupakan tantangan serius bagi pasukan militer yang memiliki jumlah personel dan persenjataan yang jauh lebih besar.

Perhatian lain untuk pemerintah Filipina adalah ditemukannya militan asing bergabung dengan kelompok Maute, di antaranya warga Indonesia dan Malaysia. Hal menunjukkan bahwa apa yang dulunya merupakan masalah domestik, kini bisa menjadi ancaman keamanan regional dengan skala yang lebih besar.

(WIL)

Copyright : metrotvnews.com