Mulai Hari Ini Indonesia Gelar Imunisasi Campak Rubela

Wijayanti – seorang ibu di kota Solo, yang sedang hamil anak kedua – masih ingat betul penyakit rubella yang diderita kakak iparnya beberapa tahun lalu, yang menjangkiti bayi dalam kandungan dan menimbulkan keguguran. Hal yang sama terjadi pada teman dekatnya.

Oleh karena itu, Wijayanti kali ini tak ragu mendaftarkan anak pertamanya yang berusia 3,5 tahun untuk ikut vaksinasi campak rubella atau MR.

“Ya bagi saya, imunisasi ini sangat penting. Pengalaman saya, ada kakak ipar saya yang janin dalam kandungannya terkena rubella dan janinnya tidak terselamatkan. Begitu juga ada teman saya yang hamil dengan kondisi janin terkena rubella dan akhirnya bayi lahir kondisi kepala dan otaknya mengecil. Bagi saya sebagai seorang ibu dengan kondisi hamil dan punya anak balita, itu pengalaman yang berharga. Kalau ada yang menolak imunisasi karena keraguan kehalalan vaksin atau munculnya vaksin palsu, ya itu tidak beralasan, pemerintah sudah bekerja keras untuk menyelamatkan warganya agar terhindar dari penyakit menular atau mematikan. Pemerintah juga pasti sudah berkoordinasi dengan tokoh agama terkait kehalalan vaksin ini,” ungkapnya.

Mulai hari Selasa (1/7) pemerintah secara serentak menggelar imunisasi campak dan rubella atau ‘’Measles-Rubella’’ MR di seluruh Pulau Jawa, untuk bayi usia sembilan bulan hingga anak usia 15 tahun. Vaksinasi dilakukan di sekolah, posyandu, hingga puskesmas. Kementerian Kesehatan menargetkan 95 persen dari 34 juta sasaran imunisasi tahun 2017 ini mendapat vaksin imunisasi MR. Tahun depan, pemerintah akan melanjutkan imunisasi MR untuk wilayah di luar Pulau Jawa.

Sekolah menjadi salah satu lokasi menggelar imunisasi MR atau Campak dan Rubella ini. Poster hingga selebaran penyelenggaraan imunisasi MR sudah terpasang di berbagai sekolah sejak akhir pekan lalu. Setiap murid juga diberi selebaran tentang Imunisasi MR. Kepala Dinas Pendidikan Pemkot Solo, Etty Retnowati, mengatakan Dinas Pendidikan sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan yang akan menggelar imunisasi tersebut di seluruh sekolah di Solo.

Menurut Etty, pemerintah kota juga siap mengantisipasi penolakan sekolah untuk mendapat imunisasi, sebagaimana yang terjadi di kota Yogyakarta.

“Imunisasi Campak dan rubbela kan masihnanti Agustus dan September. Sampai saat ini belum ada laporan penolakan imunisasi yang akan digelar di sekolah. Ya nanti imunisasi Campak dan Rubella kan juga digelar di sekolah-sekolah. Kita sudah koordinasi dengan Dinas kesehatan, nanti mereka yang langsung ke sekolah-sekolah. Ya kita persilakan karena itu ranah Dinas Kesehatan. Memang sampai saat ini belum ada masukan munculnya penolakan imunisasi seperti yang terjadi di Yogyakarta.”

Pekan lalu delapan sekolah setara SMP dan SD di Yogyakarta menolak pemberian imunisasi di sekolah, karena ragu dengan kehalalan vaksinasi tersebut. Pemerintah setempat melakukan pendekatan dan mencob memberi pemahaman lewat tokoh agama dan tokoh masyarakat supaya orang tua murid di sekolah itu bersedia anaknya divaksinasi. Hingga kini belum jelas hasilnya. Tetapi vaksinasi di sekolah-sekolah lain dilaporkan tetap berlangsung.

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius, antara lain radang paru, radang otak, kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian. Sementara Rubella akan menimbulkan penyakit ringan jika menjangkiti anak-anak, tetapi jika menjangkiti ibu hamil maka bisa menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Kecacatan tersebut meliputi kelainan pada jantung dan mata, tuli dan keterlambatan perkembangan.

Keraguan pada kehalalan vaksin dan munculnya pemberitaan vaksin palsu akhir tahun lalu menjadi tantangan pemerintah meyakinkan masyarakat. Juru bicara Dinas Kesehatan Pemkot Solo, EfiS. Pertiwi, Senin (31/7), mengatakan tenaga kesehatan di Solo siap berkunjung dari rumah ke rumah untuk memberi informasi dan melakukan vaksinasi bayi dan anak yang menjadi sasaran.

Efi berharap ada peran masyarakat dalam mengawal keberhasilan vaksin campak dan rubella.

“Penyelesaian masalah imunisasi tidak mungkin teratasi hanya melibatkan pemerintah saja. Namun diperlukan partisipasi dari masyarakat luas. Pemkot juga terus menyosialisasikan kepada masyarakat melalui tenaga dan kader kesehatan tentang imunisasi campak dan rubella ini. Mereka akan melakukan upaya jemput bola. Jika ada anak yang belum terimunisasi,tenaga dan kader kesehatan kami siap melakukan kunjungan ke rumah. Bagi anak-anak yang sakit akan diberikan imunisasi setelah sembuh. Imunisasi ini kan termasuk untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit misal campak dan Rubella atau penyakit menular lainnya.ini untuk menjaga imunitas komunitas atau masyarakat, artinya jika suatu komunitas masyarakat misal ada 100 orang, kemudian diimunisasi 95 orang, atau target 95 persen, maka 5 orang yang tidak diimunisasi jika terkena penyakit tidak akan menular ke 95 orang sisanya karena imun tubuhnya sudah terbentuk. Berbeda jika kondisi terbalik, ada penolakan imunisasi, misal 95 orang menolak diimunisasi dan 5 orang yang diimunisasi maka yang 5 orang ini kemungkinan bisa tertular penyakit yang diakibatkan 95 orang ini,” ujarnya.

Menurut catatan Kementerian Kesehatan tahun 2016, dilaporkan ada 8.185 kasus campak pada tahun 2015. Jumlah ini lebih rendah dibanding tahun 2014 yang mencapai 12.943 kasus.

Sementara, Rubella masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu pencegahan efektif karena data surveilans lima tahun terakhir menunjukkan 70% kasus terjadi pada kelompok usia di bawah 15 tahun. Perhitungan modelling yang dilakukan Kementerian Kesehatan di Jawa Timur menunjukkan ada 700 bayi yang dilahirkan dengan penyakit campak rubella setiap tahun. [ys/em]

Copyright : voaindonesia.com