Ngayogjazz Ke-11 Serukan Perjuangan Toleransi

Yogyakarta akhir pekan ini kembali diramaikan dengan festival musik tahunan Ngayogjazz, yang kali ini tidak saja menghadirkan musisi dan kelompok terkenal seperti Dira Sugandi dan Sri Hanuraga Trio, tetapi juga musisi baru seperti “¾ Kriting” yang membawakan lagu-lagu blues, komunitas jazz dari berbagai daerah di Indonesia, grup Mantradisi yang melagukan sastra Mocopat Jawa, dan Remi Panossian Trio dari Perancis. Ada pula duo Endah N Rhesa dari Jakarta, yang menampilkan lagu-lagu balada, termasuk lagu berjudul “Candles Lighted” yang merujuk pada Catatan Pinggir Gunawan Muhammad bagi anak-anak Munir setelah ayah mereka dibunuh. Kepada VOA, Endah mengatakan, “Beberapa waktu setelah kematian Munir, dia (Gunawan Muhammad) menulis ini untuk anak-anak Munir; jangan takut pada kegelapan karena kegelapan adalah bagian dari hidup kita. Tapi takutlah kamu pada kepekatan karena kepekatan tandanya kita menyerah.”

Endah dan Rhesa memang mengajak penonton untuk tidak menyerah pada nasib dan keadaan, sesuai tema besar Ngayogjazz 2017, Wani Ngejazz Luhur Wekasane, atau berarti “siapa yang bersabar akan mendapatkan kemuliaan.” Hal senada disampaikan musisi senior sekaligus penggagas Ngayogjazz, Jaduk Ferianto.

“Ini temanya perjuangan, lha jazz itu lahirnya juga mengenai perjuangan.Jadi, dimulai dari blues lalu jazz, kita menanam investasi kultural. Maka, gerakan Ngayogjazz ini sebagai gerakan kultur bukan profit-oriented. Banyak sekali teman-teman musisi ingin masuk di Ngayogjazz, kami terus terang bahwa kami nggak punya uang. Tetapi mereka tetap kepingin sehingga kita lakukan kurasi. Porsinya, antara yang sudah punya jam terbang dan nama nasional sama yang masih baru kita-kira fifty-fifty lah supaya nanti yang baru-baru juga muncul,” ujarnya.

Banyak musisi yang lahir dan menjadi terkenal setelah tampil di Ngayogjazz, antara lain Dira Sugandi.

“Senang bisa kembali ke Yogya karena Yogya itu salah satu kota favorit saya, kali ini bersama Sri Hanugara Trio bias membawakan lagu-lagu kami di Yogya. Apalagi acara ini gratis saya seneng banget sehingga teman-teman dari berbagai kalangan bisa menikmati musik kita,” kata Dira.

Remi Panossian, pianis ‘’Remi Panossian Trio asal Perancis juga gembira bisa tampil di Ngayogjazz. Ia mengatakan, “Ini festival yang mengagumkan diadakan di desa, begitu banyak penonton, mereka ramah dan tertarik dengan musik kami, kami diterima dengan sangat baik dan antusias.”

Banyak penonton datang dari luar kota Yogyakarta, termasuk Rey yang datang dari Jakarta khusus untuk Ngayogjazz.

“Konsep yang ditawarkan Ngayogjazz ini berbeda, melibatkan orang daerah di desa untuk berfestival. Biasanya kalau EO (Event Organizer) profit oriented, apapun dikelola panitia. Kalau ini tidak terapkan community-based concept,” jelasnya.

Demikian pula Steffa asal Polandia yang sedang belajar Bahasa Indonesia di Malang, Jawa Timur, dan datang ke Yogyakarta mengendarai sepeda motor bersama teman-temannya untuk menonton Ngayogjazz.

“Kami dapat informasi dari seorang teman di Yogyakarta, kami datang dari Malang karena sedang belajar Bahasa Indonesia disana. Kami sengaja datang karena kami suka music jazz.” kata Steffa.

Sutradara Garin Nugroho menilai, Ngayogjazz menarik karena diadakan di pedesaan. Menurutnya, “Gayeng, guyub dan greget (kedekatan dan kegembiraan) masyaraat pedesaan itu kan sebenarnya esensi sebuah festival untuk hidup di dalam masyarakat. Menurut saya, yang menarik dari Ngayogjazz ini adalah kemampuan dia untuk selalu hidup di wilayah pedesaan, wilayah yang tidak mainatream.”

Dipilihnya desa Kledokan karena latar belakang sejarah perjuangan di desa ketika melawan penjajah. Bagi Suwandi warga Kledokan Ngayogjazz mengajarkan kreatifitas bagi anak muda setempat.

“Kami merasa senang dengan adanya Ngayogjazz ini karena anak muda kita ini diberi contoh oleh Ngayogjazz bagaimana mengelola suatu kegiatan,” ujarnya. [ms/em]

Sumber / Copyright : voaindonesia.com