Orang Rimba di Jambi, dari animisme pindah Islam untuk dapat KTP

orang rimbaHak atas foto AFP
Image caption Anak-anak Orang Rimba yang pindah Islam dan belajar mengaji.

Sekitar 200 dari 3.500 anggota suku Orang Rimba atau Anak Dalam di Jambi pindah dari animisme dan masuk Islam agar hidup lebih sejahtera dan mendapatkan kartu identitas penduduk, KTP.

“Alhamdulilah, pemerintah kini memperhatikan kami, sebelum kami pindah agama, mereka tak peduli,” kata Muhammad Yusuf, pemimpin kelompok dengan nama barunya. kepada kantor berita AFP.

Hak atas foto AFP
Image caption Mereka tinggal di rumah-rumah kayu dan tidak lagi nomaden.

Yusuf mengakui bahwa alasannya pindah keyakinan karena mencari makan semakin sulit di tengah konflik dengan perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di daerah yang ditinggali suku ini.

Pria yang sebelumnya bernama Nguyup -sesuai dengan nama Orang Rimba- juga ingin memiliki KTP sehingga memudahkan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Sekitar 200 orang suku Anak Dalam yang hidup nomaden atau berpindah-pindah setiap beberapa minggu, kini menetap di satu tempat, di rumah-rumah yang terbuat dari kayu.

Hak atas foto AFP
Image caption Keluarga suku Orang Rimba.

“Pindah keyakinan tak diizinkan”

Mereka memakai baju yang disumbangkan oleh pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat dan tak lagi sekedar memakai kain penutup tubuh. Suku nomaden ini biasanya pindah tiga kali dalam satu bulan untuk mencari daerah perburuan baru atau setiap kali ada anggota suku yang meninggal.

Hak atas foto AFP
Image caption Di Indonesia, terdapat sekitar 70 juta jiwa anggota suku pedalaman.

“Lebih enak tinggal di desa seperti ini, kehidupan kami lebih baik,” kata Yusuf yang berhenti tinggal berpindah Januari lalu. Namun ia mengatakan masih belum mendapatkan KTP.

Di tempat lain, 300 suku Anak Dalam lain -yang masih nomaden- tinggal di tenda plastik biru yang mereka bangun seadanya dan masih berburu binatang, di tengah perkebunan sawit.

“Menurut tradisi kami, pindah keyakinan tak diizinkan,” menurut pemimpin suku di sana, Mail, kepada kantor berita AFP.

Hak atas foto AFP
Image caption Anak-anak suku Orang Rimba yang masih nomaden.

“Kami khawatir bila kami langgar sumpah kami, kami akan ditangkap harimau,” tambahnya.

Hak atas foto AFP
Image caption Terdapat sekitar 3.500 anggota Suku Rimba di Batang Hari, Jambi. Mereka berpindah tempat paling tidak tiga kali seminggu.

Hasbullah Al Banjary, Direktur pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Kementerian Sosial, mengatakan pemerintah lebih mudah dalam memberikan bantuan kepada berbagai suku karena mereka tak lagi berpindah-pindah.

Hasbullah juga mengatakan tradisi mereka tak akan hilang dan ‘perlu kita pertahankan’.

Anak-anak Orang Rimba, yang termasuk dalam sekitar 200 orang yang masuk Islam, sudah mulai belajar mengaji.

Hak atas foto AFP
Image caption Suku Orang Rimba yang tak nomaden lagi tinggal di rumah kayu yang disediakan.

Saat ini terdapat sekitar 70 juta jiwa anggota suku pedalaman, termasuk Dayak sampai suku di Mentawai.

Tetapi Rukka Sombolinggi, Koordinator of Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), mengatakan kondisi suku pedalaman seperti ini karena pemerintah tidak memberikan perlindungan selayaknya.

Hak atas foto AFP
Image caption Orang Rimba yang masih nomaden berburu dengan bedil.

“Saya melihat ini karena kegagalan pemerintah melindungi mereka,” kata Rukka kepada AFP. “Mereka beralih ke ulama atau gereja di sejumlah tempat karena mereka menawarkan perlindungan.

Copyright : bbci.co.uk