Pakar Peringatkan Kemampuan Perang Siber Korea Utara

Tiga belas bulan lalu, intranet Kementerian Pertahanan Korea Selatan diretas untuk pertama kali dan militer menuduh Korea Utara menginfeksi ratusan, bahan mungkin ribuan komputer dengan program komputer yang merusak atau malware.

Pada Desember 2016, Han Min-Koo yang kala itu menjabat Menteri Pertahanan mengatakan dalam taklimat dengan anggota parlemen bahwa kejadian itu tidak penting.

Kini, laporan terbaru menunjukkan, peretas Korea Utara mungkin mendapat apa yang disebut Rencana Operasi (Oplan) 5015 dalam serangan siber pada September 2016.

Oplan 5015 yang menurut laporan berita mencakup rencana “pemenggalan” pemimpin Korea Utara, adalah cetak biru operasi penting militer yang disusun Amerika dan Korea Selatan mengenai cara bereaksi jika terjadi invasi Korea Utara.

Pejabat Pentagon menolak berkomentar mengenai apakah informasi sensitif atau rahasia itu bocor akibat peretasan itu.

Kenneth Geers, Duta Besar NATO Cooperative Cyber Defense Center of Excellence dan peneliti senior di Atlantic Council’s Cyber Statecraft Initiative, mengatakan kepada VOA bahasa Korea bahwa “sangat mungkin” rencana-rencana ini telah dibajak dan Korea Utara kemungkinan mendapat bantuan dari Rusia dan Korea Utara untuk mendapatkan dokumen tersebut.

Geers juga mengatakan Moscow dan Beijing tampak sangat sejalan dengan Pyongyang untuk perang siber karena mereka ingin melampaui pengujian militer AS secara traditional dan menilai kemampuan perang siber.

Geers memiliki pengalaman 20 tahun bekerja di pemerintah Amerika termasuk bekerja di Angkatan Darat Amerika, Badan Keamanan Nasional dan Dinas Investigasi Kriminal Angkatan Laut Amerika. Dia juga pernah bekerja sebagai analis senior ancaman global di FireEye, perusahaan keamanan siber di California. [ka/fw]

Sumber RSS / Copyright : voaindonesia.com