Pasca Penembakan Rudal, Inggris Panggil Duta Besar Korea Utara

Jum’at, 01 September 2017 | 18:02 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, bersama dengan staffnya melihat kontes target-striking pasukan khusus Tentara Rakyat Korea di Pyongyang, Korea Utara, 25 Agustus 2017. KCNA via Reuters

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, bersama dengan staffnya melihat kontes target-striking pasukan khusus Tentara Rakyat Korea di Pyongyang, Korea Utara, 25 Agustus 2017. KCNA via Reuters.

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Inggris untuk Asia Pasifik Mark Field memanggil Duta Besar Korea Utara pasca-penembakan rudal ke Jepang pada Selasa lalu. Pertemuan tersebut adalah tatap muka pertama setelah Inggris mengecam peluncuran rudal tersebut.

“Saya menjelaskan betapa kuatnya Inggris mengecam peluncuran rudal tersebut,” kata Field, seperti dilansir BBC, pada Kamis 31 Agustus 2017. Langkah pertemuan tersebut dilakukan setelah pertemuan Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe untuk membahas ancaman Korea Utara.

Sebelumnya, rudal Korea Utara terbang di atas Pulau Hokkaido dan mendarat di laut. Sebuah tanda sirene memberi tanda orang-orang untuk berlindung. Pemerintah Jepang menyebut rudal sebagai ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca: Kim Jong-un Tunda Tembakkan Rudal ke Guam

Setelah pertemuan dengan Kedutaan Korea Utara, Field menegaskan: “Sekali lagi, tindakan sembrono Korea Utara melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan mengancam keamanan internasional.”

Pemerintah Inggris, kata dia, akan bekerja sama dengan mitra dan sekutu untuk mengatasi ancaman Korea Utara.

Field mendesak Korea Utara untuk menghentikan program nuklir dan peluncuran rudalnya.  “Saya mendesak rezim mereka mengakhiri program rudal nuklir dan balistik dan kembali melakukan dialog dengan masyarakat internasional,” ujar Field.

Ketegangan di seputar program nuklir Korea Utara meningkat sejak perang urat saraf antara pemerintah Pyongyang dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pada  pertengahan Agustus, militer Korea Utara mengumumkan bahwa mereka telah mengirim sebuah rencana untuk menyerang wilayah kepulauan AS di Guam.
BBC | ARKHELAUS W.


Sumber RSS / Copyright : tempo.co