Pedagang Pasar Gondangdia keluhkan stok garam menipis

Jakarta (ANTARA News) – Pedagang pasar mulai kekurangan stok garam seperti yang dituturkan Cucuk (32) salah seorang pedagang di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat, Kamis.
“Sudah sejak Lebaran kemarin saya tidak stok garam dan hanya menghabiskan stok yang ada,” kata Cucuk kepada ANTARA News.
Cucuk menambahkan, ia menjual stok garam tersebut masih dengan harga normal, yakni Rp2.000 per 500 gram untuk garam merek Cap Kepiting. 
Menurut Cucuk, ia sudah memesan kepada sales garam tersebut sejak sebulan yang lalu namun tidak juga dipenuhi dengan alasan ketersediaan kosong.
Pedagang lain, Mega (36) juga mengungkapkan hal yang sama. Ia mengaku saat ini hanya memiliki sekitar 4 kilogram garam yang tersisa di tokonya.
“Garam kita tinggal 4 kilo yg di toko, saya juga sudah pesan ke sales katanya masih kosong. Ada beberapa merek pabrikan selain Cap Kepiting tapi harganya hampir dua kali lipat dari biasanya, kita jual cuma Rp3.000 sekarang menjadi Rp5.000 per 250 gramnya,” ujar Mega.
Fenomena kelangkaan garam ini juga dibenarkan oleh Sutrisno, Kasi Umum Pengelola Pasar Gondangdia.
Sutrisno menjelaskan bahwa sebulan belakangan ini garam memang langka dan dampaknya, harga garam menjadi naik hingga seratus persen.
“Sebulan belakangan pedagang juga mengakui kesusahan untuk stok garam, kadang ada yang dapat namun harganya juga mahal dua kali lipat dari biasanya,” ungkap Sutrisno saat ditemui di kantornya.
Kelangkaan garam mengakibatkan naiknya harga garam, seperti Cap Kepiting yang semula dijual Rp2.000 enjadi Rp4.000 per 500 gramnya. Kemudian Garam Bata yang naik menjadi Rp16.000 dari harga semula Rp12.000 per paknya. Sementara itu, garam pabrikan seperti Cap Refina naik dari harga Rp3.000 menjadi Rp5.000 per 250 gramnya.
“Garam itu bahan pokok untuk masakan, meskipun harganya naik mau tidak mau tetap dibeli,” kata Sri Wahyuni (29), seorang pembeli saat ditemui di pasar Gondangdia.
Kenaikan harga garam dapur juga terjadi di Pasar Karang Anyar, Jakarta Pusat, akibat kelangkaan stok garam.
Salah satu pedagang, Sopia (39), mengatakan harga garam naik sejak akhir pekan lalu.
“Harganya naik tiga kali lipat. Pasokan dari produsen garam juga kosong,” kata Sopia.
Seorang ibu rumah tangga, Ina (35), mengaku kesulitan mencari garam.
“Cari garam saja harus keliling, tanpa garam mana ada rasa,” ujar Ina.
“Biasanya saya membeli garam eceran ukuran 250 gram atau garam berbentuk balok hanya Rp2.000, kini Rp6.000. Itu pun pembeliannya dibatasi,” tambahnya.
Selain garam kemasan kecil dan garam berbentuk balok, garam dengan kemasan jumbo yang biasanya dijual di toko sembako seharga Rp4.500 kini harganya melambung menjadi Rp17.500 per bungkus. 
“Seumur-umur saya baru kali ini sulit mendapatkan garam,” katanya.
Pewarta : Indra Perdana, Dedi Supriadi/ Magang BPJS Ketenagakerjaan

Editor: Monalisa

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Copyright : antaranews.com