Pemenuhan Pangan Masih Tergantung Impor

Metrotvnews.com, Jakarta: Produksi padi, jagung, dan kedelai (pajale) meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk 2016, produksi rerata tiga komoditas utama itu meningkat 3,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pengamat kebijakan pertanian, Bustanul Arifin, menjabarkan produksi gabah 75,40 juta ton atau setara 43 juta ton beras. Jumlah tersebut meningkat 6,42%. Produksi jagung (pipilan kering) sebanyak 19,61 juta ton atau naik 3,18%. Sedangkan produksi kedelai sebesar 963 ribu ton atau meningkat 0,86%.

Sayangnya, peningkatan produksi tiga komoditas tersebut tidak berpengaruh besar terhadap pengurangan impor. Bahkan, impor beras meningkat cukup tajam.

“Kita masih tergantung pada impor. Saya kompilasi, impor berasnya sudah 1,28 juta ton atau sekitar USD531 juta (Rp7,06 triliun) pada 2016,” kata Bustanul dalam Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP), Kuningan, Jakarta Selatan, Senin 22 Mei 2017.


Bustanul Arifin bicara di FDEP. Foto: MTVN/Husen Miftahudin

Angka itu, lanjut dia, meningkat cukup drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Di 2015, impor beras hanya sebanyak 861 ribu ton senilai USD351,6 juta atau setara Rp4,68 triliun (kurs Rp13.300/USD).

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menyayangkan melubernya impor. Sebab dengan harga yang murah, produksi pangan lokal malah justru jadi tumbal.

Bustanul berharap pemerintah benar-benar merencanakan impor dengan matang. Caranya, dengan melihat waktu panen raya komoditas pangan di Indonesia.

“Kita pernah punya aturan yang menyebutkan impor itu tidak boleh sebulan sebelum panen raya dan dua bulan setelah panen raya dan yang menentukan Menteri Pertanian,” tegasnya.

(TRK)

Copyright : metrotvnews.com