Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,01% di Kuartal I-2017

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) merilis capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus level 5,01 persen di kuartal I-2017. Angka ini terbilang positif lantaran situasi dan kondisi perekonomian dunia masih tidak menentu dan memberi efek terhadap gerak ekonomi di Tanah Air.

Kepala BPS Suhariyanto memperkirakan angka pertumbuhan ekonomi ini akan terus bergerak di kuartal-kuartal mendatang. “Pertumbuhan ekonomi diharapkan lebih tinggi lagi kedepannya,” kata Suhariyanto, dalam sebuah konferensi pers, di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Jumat 5 Mei 2017.

Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya maka angka ini mengalami kenaikan. Pada kuartal VI-2016 capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 4,49 persen. Begitu juga dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang tumbuh sebesar 4, 92 persen.

Namun, secara besaran Produk Domestik Bruto (PDB) terjadi penurunan 0,34 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pada kuartal I-2017, nilai PDB sebesar Rp2.377,5 triliun (ADHK) atau Rp3.227,3 triliun (ADHB). Sementara pada kuartal VI-2016 yakni tercatat Rp2.385,6 triliun (ADHK) dan Rp3.194,8 triliun.

Sedangkan nilai PDB jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu mengalami kenaikan sebesar 5,01 persen. Sedangkan kuartal pertama tahun lalu sebesar Rp2.264,1 (ADHK),triliun dan Rp2.931,4 triliun (ADHB).

Sebelumnya, Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan tiga bulan pertama di tahun ini pertumbuhan ekonomi nasional bisa tembus di level 5,1 persen. “Saya masih cenderung begitu. Biasanya pakai kisaran antara 5,0-5,1 persen,” kata Darmin, di Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Menurutnya motor penggerak pertumbuhan kali ini adalah pertumbuhan ekspor-impor. Kondisi itu terjadi lantaran mulai merangkaknya harga beberapa komoditas, utamanya kelapa sawit (CPO) dan karet membawa keuntungan serta juga tambahan penghasilan.

“Ekspor-impor juga sekaligus memengaruhi penghasilan banyak orang. Karena dalam ekspor-impor memang naik harga beberapa komoditi seperti karet dan kelapa sawit,” ujar dia.

(ABD)

Copyright : metrotvnews.com