Pilkada Jateng: Mampukah Sudirman Said menjadi gubernur di ‘kandang banteng’?

Sudirman SaidHak atas foto TWITTER GERINDRA
Image caption Prabowo Subianto menilai Sudirman Said yang lahir di Brebes memiliki kompetensi memimpin Jawa Tengah.

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, yang resmi mendapatkan dukungan Partai Gerindra, diprediksi akan menghadapi tantangan berat dalam persaingan merebut kursi gubenur Jawa Tengah karena ‘Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) begitu mengakar’ di provinsi itu.

PDIP memiliki 31 kursi dari total 100 kursi di DPRD Jateng sementara 19 dari total 35 bupati dan wali kota di provinsi tersebut merupakan kader atau sosok yang didukung PDIP.

Adapun, 18 dari 76 anggota DPR dari Jateng berasal dari partai berlambang kepala banteng itu.

“Pencalonan Sudirman Said akan mendapatkan tantangan berat karena pemilih tradisional dan lokal berada di bawah kendali PDIP,” kata Dosen Ilmu Politik dari Universitas Diponegoro, Teguh Yuwono, melalui sambungan telepon dari Jakarta, Rabu (13/12).

Ketua Umum Gerindra, Probowo Subianto, mengakui partainya tidak bisa berjalan sendiri untuk memenangkan Sudirman. namun sedang menjajaki koalisi dengan Partai Amanat Nasional (PKS) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Konsultasi kami dengan beberapa partai, tampaknya koalisi untuk Jawa Tengah boleh dikatakan mantap,” ujar Prabowo kepada para wartawan di Jakarta, usai mendeklarasikan dukungan untuk Sudriman.

Bagaimanapun, Prabowo menilai rekam jejak karir profesional Sudirman bisa menjadi modal mempengaruhi para pemilih di Jateng.

“Dia mantan menteri, mantan rektor, pernah memimpin PT Pindad (Persero), perusahaan yang sangat strategis, dan memimpin rekonstruksi Aceh,” ucap Prabowo.

Hak atas foto GERINDRA
Image caption Prabowo sudah mengusung dua menteri yang dipecat Presiden Jokowi menjadi kepala daerah Anies Baswedan dan Sudirman Said.

Dihubungi terpisah, Ketua DPD Jateng PDIP Bambang ‘Pacul’ Wuryanto menyebut elektabilitas Sudirman berada di urutan bawah dalam survei internal partainya soal calon gubernur di provinsi itu.

Ia berseloroh, popularitas Sudirman bahkan tidak melebihi dirinya yang berhasil melenggang ke Senayan pada pemilu 2014.

“Dibandingkan Bambang Pacul saja kalah. Jadi masih terlalu jauh. Upaya yang harus dia keluarkan luar biasa dan itu pun harus didukung logistik yang besar,” ujarnya.

Tiru strategi pemenangan Anies?

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, turut menghadiri deklarasi dukungan Gerindra untuk Sudirman di rumah Prabowo di Jakarta, Rabu (13/120 dan Sudirman menyinggung kemenangan Anies dalam Pilkada DKI.

“Setelah kemenangan pasangan Anies dan Sandiaga Uno di DKI, Gerindra kembali memberikan kesempatan bagi individu dari luar partai yang dipandang mampu memenuhi syarat,” tuturnya.

Anies dan Sudirman tidak tercatat sebagai anggota Gerindra karena sebelum maju ke pemilihan gubernur, keduanya berkarir di luar politik, dengan Anies sebagai akademisi dan Sudirman malang-melintang di korporasi swasta maupun lembaga pemerintah.

Anies dan Sudirman memiliki status serupa sebagai mantan menteri di Kabinet Kerja setlah Juli 2016, Presiden Joko Widodo mencopot Anies dari jabatan menteri pendidikan sedangkan Sudirman diberhentikan sebagai menteri ESDM.

“Yang untung gue,” kata Prabowo soal pemecatan dua mantan menteri itu.

Hak atas foto Ari Saputra/detikcom
Image caption Pengamat menilai, sebagai petahana Ganjar Pranowo berpeluang besar memenangkan Pilkada Jateng.

Namun Teguh Yuwono menilai konstelasi pilkada yang akan dihadapi Sudirman berbeda dengan Anies. Selain faktor PDIP yang memiliki lumbung suara di Jateng, Teguh menyebut isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sulit berkembang di provinsi itu.

“Geopolitik, budaya, dan kebiasaan politik di Jakarta dan Jateng berbeda. Apa yang diterapkan di Jakarta tidak bisa serta merta bisa terjadi di Jateng.

“Pemilih di Jateng tidak cair seperti di Jakarta, pilihan politik mereka tidak mudah berubah karena media sosial, televisi, kampanye atau mobilisasi massa,” kata Teguh.

Adapun, Bambang Wuryanto menyebut PDIP tak ingin kekalahan Basuki Tjahaja Purnama yang mereka usung di Jakarta berulang di Jateng. Saat itu, kata Bambang, Basuki alias Ahok kalah meski unggul dibandingkan Anies dan Agus Yudhoyono dalam jajak pendapat lima hari sebelum pemungutan suara.

“Ada perubahan peta politik yang luar biasa di saat-saat akhir. PDIP mempelajari itu dan yang kami pahami adalah campur tangan invisible hand.

“Apakah strategi itu dapat diterapkan di Jawa Tengah, mari diuji di lapangan,” ujar Bambang.

Ganjar di atas angin?

Jelang pilkada Jateng tahun 2018, menurut Teguh, tidak disertai munculnya calon-calon gubernur kuat karena petahana masih dapat ikut serta. Kondisi itu, kata dia, berbeda dengan Pilkada Jawa Barat dan Jawa Timur yang juga akan berlangsung tahun depan.

“Peluang petahana menang bisa dikatakan 50%. Partai-partai berpikir ulang karena mengalahkan petahana itu berat,” ujarnya.

Teguh memprediksi Ganjar Pranowo dapat lebih mudah ditaklukkan jika pemilihan gubernur hanya diikuti dua calon. “Pemilih PDIP sudah 40%, kalau sisanya dibagi rata dengan dua calon lainnya, PDIP tetap unggul,” kata dia.

Lebih dari itu, Teguh menyebut Sudirman harus mengharapkan ‘tsunami politik’ untuk dapat mengalahkan Ganjar di provinsi yang dikuasai PDIP.

Konstelasi politik itu menurutnya dapat berubah jika Ganjar tersangkut kasus korupsi atau tidak diusung oleh PDIP.

Namun Bambang Wuryanto mengklaim popularitas Ganjar di Jateng tetap tinggi, meski petahana itu diduga mendapatkan uang haram dari proyek e-KTP maupun kerap didemo oleh para penolak pabrik PT Semen Indonesia di Rembang.

“Ganjar disenangi ibu-ibu dan anak muda. Mereka adalah pendukung loyalnya,” kata Bambang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Calon gubernur yang akan diusung PDIP akan ditentukan ketua umum mereka, Megawati Soekarnoputri.

Hingga saat ini PDIP belum mempublikasikan sosok yang akan mereka usung dalam Pilkada Jateng karena, jelas Bambang, keputusan berada di tangan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Selain Ganjar, terdapat empat orang lain yang mendaftarkan diri ke PDIP untuk maju menjadi calon gubernur Jateng, yaitu Musthofa (Bupati Kudus), Wardoyo (Bupati Sukoharjo), Sunarna (mantan Bupati Klaten), dan Lestariyono Loekito (kepala desa di Kendal).

Bambang berkata, Megawati kemungkinan akan mengumumkan jago mereka di Pilkada Jateng pada pekan terakhir Desember nanti atau minggu pertama Januari 2018.

Di luar Sudirman dan Ganjar, sejumlah sosok juga berniat maju ke pemilihan gubernur Jateng. Partai Kebangkitan Bangsa telah lebih dulu medeklarasikan dukungan mereka untuk eks Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar.

Sementara itu, Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Budi Waseso berulang kali menyatakan kesiapannya mendapat dukungan politik untuk menjadi calon gubernur Jateng.

Pendaftaran bakal pasangan gubernur Jateng dibuka 8 hingga 10 Januari 2018 dan setelah melalui tahap verifikasi syarat, maka KPU setempat akan menetapkan pasangan calon pada 12 Februari 2018.

Pada Pilkada Jateng 2013, Ganjar Pranowo yang berpasangan dengan Heru Sudjatmoko meraih 48,82% suara, unggul dari dua kompetitor mereka.

Sebelum Ganjar, Jateng juga dipimpin gubernur yang berasal dari PDIP, yaitu Bibit Waluyo.

Sumber RSS / Copyright : bbci.co.uk