Protes Bom Maut Kabul, Empat Tewas dalam Bentrokan

Metrotvnews.com, Kabul: Sedikitnya empat warga Afghanistan tewas, pada Jumat 2 Juni, saat suatu demonstrasi anti-pemerintah berubah jadi bentrokan di jalan-jalan raya. 

Polisi menembaki kerumunan untuk membubarkan ratusan demonstran yang melempar-lemparkan batu. Insiden itu dipicu sebuah pengeboman dahsyat.

Kemarahan publik meningkat sesudah sebuah tanker limbah meledak di kawasan diplomatik Kabul, pada Rabu 31 Mei. Tewasnya 90 orang dan melukai ratusan lainnya merupakan serangan paling mematikan di ibu kota Afghanistan sejak 2001.

Ratusan demonstran meminta Presiden Ashraf Ghani untuk turun dan meneriakkan “Matilah Taliban”. Mereka bentrok dengan polisi di dekat lokasi pengeboman. Aksi itu mendorong petugas untuk memukul mereka mundur dengan tembakan, kebanyakan mengarah ke udara, gas air mata, dan meriam air.

Rumah Sakit Darurat Kabul mengatakan empat pemrotes sudah meninggal sesampainya di sana, sementara 15 lainnya luka-luka, beberapa di antaranya kritis. Media lokal melaporkan jumlah korban tewas mencapai tujuh orang.

Kabul telah terbelah sejak pengeboman tersebut, yang menyoroti kemampuan militan untuk menyerang, bahkan di distrik ibu kota yang paling aman, lokasi bagi istana kepresidenan dan sejumlah kedutaan asing yang terlindung dalam labirin dinding beton.

Pembunuhan Jumat kemungkinan akan mengobarkan gelora, di saat para pemrotes yang marah bergerak menyusur jalan-jalan menggotong mayat-mayat berlumuran darah dari orang-orang yang terbunuh dalam bentrokan tersebut. Namun mereka berhenti sebelum mencapai istana kepresidenan.

Warga kota sudah meminta jawaban dari pemerintah mengenai dugaan kegagalan intelijen yang menyebabkan pengeboman tersebut, yang menggarisbawahi kerawanan spiral di Afghanistan.

“Saudara laki-laki dan perempuan kita tewas dalam serangan berdarah pada Rabu, dan pemimpin kita tidak melakukan apapun untuk menghentikan pembantaian ini,” kata Rahila Jafari, seorang aktivis masyarakat sipil dalam demonstrasi tersebut.

“Kami menginginkan keadilan, kami ingin agar pelaku serangan digantung sampai mati,” serunya, seperti disitir AFP, Sabtu 3 Juni 2017.

Jajaran demonstran penuh amarah lainnya, membawa spanduk dengan foto-foto mengerikan aksi pengeboman, membakar patung presiden, dan mengancam akan mendirikan tenda demonstrasi di sekeliling istana.

“Sungguh memalukan ketika pasukan pemerintah menembak dan menyemburkan gas air mata kepada para pemrotes yang sedang berduka, yang menuntut keadilan bagi korban pengeboman tersebut,” anggota parlemen Afghanistan Fawzia Koofi mengatakan kepada AFP.

Respon berlebihan

Amnesty International mengecam penggunaan kekerasan pemerintah sebagai “tanggapan yang berlebihan dan mematikan”.

PBB juga mendesak penahanan diri, memperingatkan para pemimpin oposisi dan kalangan tokoh kuat agar tidak mencoba secara oportunis menggunakan saat-saat emosional dan rapuh ini untuk memicu kekerasan demi keuntungan politik. Badan intelijen Afghanistan sudah menuding Jaringan Al-Qaeda Haqqani atas serangan tersebut.

Ghani diperkirakan akan menyetujui eksekusi 11 tahanan Taliban dan Haqqani, kata sebuah sumber pemerintah kepada AFP, yang tampaknya melakukan pembalasan atas serangan tersebut.

Taliban — yang saat ini berada di tengah “serangan musim semi” tahunan mereka — membantah mereka terlibat.

Gerilyawan telah mengancam “serangan balasan yang keras” dalam sebuah pernyataan di situs mereka, termasuk pembunuhan terhadap sandera asing yang mereka sekap jika pemerintah melakukan eksekusi.

Menyusul ancaman mereka, American University of Afghanistan meminta Taliban supaya membebaskan dua profesor, Kevin King dari Amerika dan Timothy Weeks Australia, yang diculik pada Agustus tahun lalu.

Keduanya muncul dalam video sandera Taliban pada Januari, bukti pertama bahwa mereka masih hidup.

Taliban juga menawan warga Kanada, Joshua Boyle dan istrinya asal Amerika, Caitlan Coleman, yang memiliki dua anak — di tahanan setelah diculik di Afghanistan pada 2012 dalam perjalanan wisata.

Jaringan Haqqani, yang sudah lama disinyalir memiliki hubungan dengan negara tetangga Pakistan, dipimpin oleh Sirajuddin Haqqani — yang juga merupakan wakil pemimpin Taliban.

Lebih dari 400 orang terluka dalam pengeboman Rabu, para korban yang terluka telah memadati bangsal rumah sakit dan lorong-lorongnya saat orang-orang masih mencari sanak keluarga yang hilang.

Para pejabat kesehatan memperingatkan bahwa beberapa korban mungkin tidak akan bisa diidentifikasi karena mayat mereka hancur berkeping-keping atau terbakar tanpa dikenali.

(FJR)

Copyright : metrotvnews.com