Rising 50: Kedekatan Hubungan Bilateral Indonesia dan Singapura

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia dan Singapura sudah menjalin hubungan bilateral sejak tahun 1967. Kedua negara bekerja sama dalam berbagai sektor, seperti ekonomi, perdagangan, budaya, pariwisata dan lainnya. 

Dalam hubungan perdagangan, Singapura adalah mitra terbesar ketiga bagi Indonesia. Sementara Indonesia adalah mitra kelima terbesar bagi Singapura.  

Kedekatan hubungan selama 50 tahun ini menjadi tagline dalam peringatan kemitraan kedua negara: Rising 50. 

Rising terdiri dari kata RI atau Republik Indonesia dan Sing yang merupakan kependekan dari Singapura. Sementara 50 menandakan lamanya hubungan bilateral kedua negara.

Berikut wawancara khusus Metrotvnews.com dengan Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Anil Kumar Nayar, di Kedutaan Besar Singapura di Jakarta, 29 Mei 2017:


Dubes Anil Kumar Nayar. (Foto: Metrotvnews.com)

1. Seperti apa hubungan Singapura dengan Indonesia sejak 50 tahun terakhir?

Tahun ini Singapura dan Indonesia merayakan 50 tahun hubungan bilateral sejak pertama kali terjalin pada 1967. 

Tagline dari perayaan ini adalah Rising 50. Rising itu terdiri dari singkatan RI atau Indonesia, dan Sing atau Singapura. 

Saya rasa hubungan antara Singapura dengan Indonesia sangat kuat. Kita bekerja sama di banyak sektor. Kerja sama politik, ekonomi, investasi perdagangan, antiterorisme, regional serta internasional fora seperti ASEAN. 

Jadi hubungan ini sangat kuat. Dilihat dari kata Rising, itu artinya terus naik tapi belum mencapai puncak tertinggi. Jadi masih banyak hal yang Singapura dan Indonesia bisa lakukan bersama untuk memperkuat hubungan dan membawanya ke level selanjutnya.

2. Apa yang menjadi fokus dalam hubungan diplomatik kedua negara?

Saya rasa pondasi terkuat dari hubungan kedua negara adalah kerja sama ekonomi. Singapura telah menjadi investor besar bagi indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, nilai investasinya sekitar 9,2 miliar dolar. 

Saat berbicara mengenai hubungan perdagangan, Singapura adalah mitra terbesar kelima bagi Indonesia. Sementara Indonesia adalah mitra ketiga terbesar bagi Singapura. 

Di sektor pariwisata, tahun lalu 2,9 juta turis Indonesia mengunjungi Singapura, dan 1,57 juta wisatawan Singapura datang ke Indonesia. 

Ini semua adalah angka-angka yang luar biasa. Tapi apa yang ditunjukkan ini sebenarnya adalah pondasi kuat dalam kerja sama kedua negara di bidang ekonomi.


Dubes Anil bersama reporter Metrotvnews.com.

3. Menurut Anda, mengapa hubungan Singapura dengan Indonesia bisa berjalan begitu sukses?

Saya rasa dalam setiap hubungan dekat, terutama antar tetangga seperti Singapura dan Indonesia, kedua negara tidak akan selalu menyepakati beragam hal di setiap waktu. Pasti akan selalu ada perbedaan pendapat atau pandangan. Tapi jangan sampai perbedaan ini menggambarkan keseluruhan aspek dari hubungan bilateral kedua negara. 

Kerja sama ekonomi kita sangat kuat, kerja sama politik berjalan lancar, hubungan antara Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Lee Hsien Loong juga baik, kerja sama di tingkat kementerian pun demikian.

Jadi satu atau dua perbedaan pasti ada, tapi kerja sama di banyak sektor berjalan sangat baik. 

Tapi saya rasa kunci dari hubungan sukses ini, karena kedua negara memandang satu sama lain sebagai mitra yang setara. Tidak merendahkan atau mencoba mendominasi, tapi melihat ada nilai dan keuntungan dari bekerja bersama-sama.

4. Seperti Rising 50, ASEAN juga merayakan hari jadi ke-50 tahun ini. Apa pandangan Singapura mengenai sepak terjang ASEAN sejauh ini?

Saya rasa kesuksesan ASEAN dalam 50 tahun terakhir ini tidak akan mungkin tercapai tanpa kepemimpinan istimewa dari Indonesia. 

Saya katakan istimewa karena Indonesia tidak memaksakan kehendaknya kepada negara-negara anggota ASEAN lain karena merasa sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. 

Tapi Indonesia justru terus bekerja bersama seluruh anggota sebagai mitra, termasuk dengan Singapura. Ini merupakan aspek yang sangat penting dalam kesuksesan ASEAN.


Dubes Singapura dalam wawancara eksklusif Metrotvnews.com.

5. Apa yang harus dilakukan para negara anggota untuk memperkuat ASEAN?

Saya rasa sangat penting bagi negara-negara anggota untuk memastikan bahwa sentralitas ASEAN tetap terjaga. Membuat keputusan berdasarkan konsensus di ASEAN juga harus dijaga. 

Mungkin ini terdengar sepele, tapi ada istilah “mudah diucapkan tapi sulit dilakukan.” Saya rasa Singapura dan Indonesia memahami hal itu.

Dan saya rasa pada tahun depan saat Singapura melanjutkan keketuaan ASEAN, kita akan bekerja bersama untuk menjaga sentralitas ASEAN, kepemimpinan ASEAN, dalam menghadapi berbagai tantangan. Dan juga untuk memastikan bahwa kita bisa memanfaatkan sejumlah peluang di sekitar kita. 

Negara kita secara geografis terletak di antara dua kekuatan ekonomi, India dan China. Pertumbuhan mereka memiliki banyak implikasi kepada kita di ASEAN, dalam hal peluang dan juga tantangan. 

Untuk dapat memanfaatkan peluang, negara-negara anggota ASEAN harus bisa bekerja sama. 

6. Apa sikap dan posisi Singapura terhadap konflik Laut China Selatan?

Dalam konflik Laut China Selatan, Singapura bukan negara pengklaim. Begitu juga Indonesia. Tapi ada beberapa anggota ASEAN yang merupakan negara pengklaim. 

Dan jika kita berbicara mengenai isu seperti kedaulatan, perbatasan dan lainnya, itu merupakan hal yang sangat sensitif dan kompleks. Jadi kami memahami masalah ini.

Menurut saya, prioritas bagi Singapura dan Indonesia dalam masalah ini adalah memastikan bahwa konflik Laut China Selatan tidak berujung pada instabilitas kawasan. Ini adalah sesuatu yang kita ingin hindari. 

Jadi menurut saya, walau bukan negara pengklaim, Singapura dan Indonesia memainkan peranan penting untuk memastikan isu ini tidak berujung pada instabilitas kawasan. 

(WIL)

Copyright : metrotvnews.com