SBY-Megawati bersalaman di Istana, akhir dari persoalan ‘dendam politik’?

sby dan megawatiHak atas foto Anung Anindhito/Biro Pers Kepresidenan
Image caption Di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/08), Susilo Bambang Yudhoyono menyalami Megawati Sukarnoputri.

Kehadiran Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Sukarnoputri secara bersamaan pada acara HUT Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, diharapkan dapat menjadi simbol untuk mengakhiri praktik ketidakdewasaan politik di antara elitenya.

Peristiwa ini juga dianggap positif sekaligus diharapkan dapat menjadi rujukan para elite politik yang bersaing sehingga sejarah politik Indonesia nantinya tidak berisi persoalan dendam di antara dua mantan presiden, kata seorang pengamat politik.

Walaupun belum ada laporan tentang detil kehadiran SBY dan Megawati di Istana Merdeka, peristiwa ini melahirkan respons positif di antara dua kubu politik yang bersaing maupun masyarakat.

Hak atas foto ROMEO GACAD/AFP
Image caption Debat terbuka antar calon presiden pada Pemilu 2009 yang menghadirkan Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (tidak terlihat fotonya), 17 Juni 2009.

Hubungan dua mantan presiden dan pimpinan partai politik ini berlangsung sangat dingin yang antara lain ditandai penolakan salah-seorang di antara mereka untuk menghadiri acara kenegaraan secara bersamaan setidaknya dalam 12 tahun terakhir.

Keputusan SBY untuk maju bersaing dalam Pemilu Presiden 2004 dianggap sebagai penyebab utama awal mula keretakan hubungannya dengan Megawati. Ketika itu, SBY menjabat Menkopolkam dibawah kabinet pemerintahan Presiden Megawati.

Tidak pernah berkomunikasi

Semenjak saat itulah, keduanya tidak pernah saling bertemu atau berkomunikasi langsung, dan kenyataan ini menjadi konsumsi masyarakat yang mengetahuinya melalui laporan media massa.

Namun demikian, ketika SBY dan Megawati akhirnya hadir bersamaan dalam acara HUT Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/08), ada harapan agar peristiwa ini sebagai simbol untuk mengakhiri keretakan tersebut.

Hak atas foto BIRO PERS KEPRESIDENAN
Image caption Presiden dan ibu negara bersama Wapres Jusuf Kalla dan isteri, beserta para pendahulu mereka.

“Saya kira ini bagus, paling tidak bisa menjadi rujukan bahwa sejarah (Indonesia) ini tidak berisi dendam dua mantan presiden,” kata pengamat politik dari Fisipol UGM, Arie Sujito kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis.

Arie mengharapkan kehadiran Megawati-SBY secara bersamaan di Istana Merdeka ini sebagai simbol bahwa mereka menyadari untuk memikirkan kepentingan yang lebih besar ketimbang persaingan politik semata.

“Dalam pengertian, mereka tidak ingin sejarah yang membuat bangsa ini mencatat dua tokoh ini enggak dewasa,” katanya.

Menurutnya, upaya untuk membangun komunikasi politik diantara keduanya sudah digagas lama, tetapi selalu terbentur adanya persaingan politik di antara mereka.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP
Image caption Dalam Pemilu Presiden 2009, pasangan capres Megawati dan wakilnya Prabowo Subianto bersaing dengan pasangan capres SBY dan Boediono. Foto diabadikan 30 Juni 2009.

“Dan itu jadi contoh yang buruk bagi bangsa ini,” ujar Arie menganalisis.

Dan kehadiran Megawati-SBY secara bersamaan itu, demikian Arie Sujito, tidak telepas dari peran Presiden Joko Widodo.

“Ini kehebatan Presiden Jokowi. Keduanya (Megawati-SBY) berkepentingan dengan Jokowi untuk menjadi teladan,” paparnya.

Dia juga menganggap bahwa kemauan dua orang itu untuk hadir secara bersamaan tidak telepas dari kesadaran mereka bahwa tindakan mereka selama ini tidak menguntungkan buat bangsa.

Hak atas foto ARIF ARIADI/AFP
Image caption Dua murid sebuah sekolah dasar di Jakarta diminta menurunkan foto Megawati dan mengganti dengan foto SBY usai pengumuman Pilpres 2004. Foto diabadikan 21 Oktober 2004.

‘Politik jangan menjadi personal’

Dihubungi secara terpisah, politikus PDI Perjuangan, Maruarar Sirait mengatakan peristiwa tersebut dapat dijadikan pelajaran bahwa para elite politik masih mampu menunjukkan kedewasaan berpolitik walaupun ada persaingan politik.

“Ini contoh yang menurut kami bisa diteladani. Jadi politik jangan menjadi personal,” kata Maruarar saat dihubungi BBC Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis (18/08) sore.

Hak atas foto Biro Pers Kepresidenan
Image caption Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla di antara para presiden pendahulunya di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/08)

Menurutnya, persaingan untuk memperebutkan kepercayaan rakyat selalu berujung pada kemenangan atau kekalahan. “Dan kalau sudah selesai, maka silaturrahmi itu baik dan positif.”

Ditanya kenapa baik Megawati atau SBY baru sekarang mau bertemu dalam satu acara bersamaan, Maruarar mengatakan, “Ibu mega dan SBY ‘kan pernah bekerja sama, Jadi ini soal waktu saja.”

Dari peristiwa di Istana Merdeka tersebut, Maruarar masih yakin bahwa para elit politik Indonesia masih mau dan mampu membangun komunikasi dan bersilaturrahmi.

Agenda tersembunyi

Senada dengan Maruarar, politikus Partai Demokrat Nurul Qomar menyambut positif kehadiran mantan Presiden SBY dan Megawati secara bersamaan dalam sebuah acara resmi.

“Dengan hadir bersama, entah bicara atau tidak, ini isyarat bahwa negeri ini butuh kebersamaan dan sinergitas antar tokohnya,” kata Qomar kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto ROMEO GACAD/AFP
Image caption Persaingan politik SBY-Megawati, yang antara lain terjadi dalam pemilu presiden 2009, membuat upaya mendekatkan hubungan keduanya menjadi berantakan. Baliho capres SBY dan cawapres Boediono diabadikan pada 29 Juni 2009.

Dia juga mengatakan kehadiran mereka membuktikan bahwa situasi Indonesia saat ini membutuhkan semacam kesepakatan nasional untuk membangun kebersamaan.

“Terlepas dari hidden agenda (agenda tersembunyi), tapi secara holistik Pak SBY hadir dengan tulus,” tambah Qomar yang dulu dikenal berprofesi sebagai pelawak -sebelum menjadi anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat.

“Situasi dan kondisi saat ini memutuskan beliau harus datang,” katanya saat ditanya kenapa pertemuan ini tidak digelar jauh-jauh hari. “Ini tanda-tanda yang baik semoga makin cair suasananya.”

Apa keuntungan Jokowi?

Lebih lanjut pengamat politik dari Fisipol UGM, Arie Sujito menganalisa kehadiran Megawati-SBY, yang disebutnya tidak terlepas dari peran Jokowi, dapat menguntungkan Joko Widodo secara politik.

“Jokowi itu presiden yang ingin juga berdiri di tengah,” kata Arie, menganalisa.

Hak atas foto Biro Pers Kepresidenan
Image caption Pengamat politik dari Fisipol UGM, Arie Sujito menganalisis kehadiran Megawati-SBY, yang disebutnya tidak terlepas dari peran Jokowi, dapat menguntungkan Joko Widodo secara politik.

“Artinya di satu sisi, modalitas politik yang dimiliki Jokowi lewat Megawati. Tapi, di sisi lain, kalau dirinya dianggap kliennya Megawati, itu tidak terlalu mengungtungkan, karena menjadi berjarak dengan kelompok lain,” paparnya.

Dengan melakukan komunikasi politik dengan SBY, Jokowi dianggapnya meraih keuntungan politik. “Ternyata Jokowi itu bukan hanya Mega, tapi juga dengan SBY bisa berkomunikasi, bisa lebih dekat.”

Apakah ke depan bakal ada perubahan politik dari peristiwa tersebut? “Ini baru simbol awal. Tapi, kalau ada irisan kepentingan dan tidak terjadi korsleting, akan membesar, seperti akan bicara agenda pemilu presiden. Tapi kalau tidak diikuti langkah aktif, tidak akan ada perubahan mendasar.”

Dan terlepas dari kepentingan politik, Arie Sujito kembali mengatakan kehadiran SBY-Megawati secara bersamaan dalam acara resmi kenegaraan, sangat penting untuk makin mendewasakan para elit politiknya walaupun ada persaingan politik di antara mereka.

Copyright : bbci.co.uk