Serangan udara Filipina tewaskan 10 teman sendiri

Philippine soldiers stand guard aboard their truck as they escort rescue workers after evacuating trapped residents from their homes on the outskirts of Marawi on the southern island of Mindanao on May 31, 2017Hak atas foto AFP
Image caption Serangan udara diarahkan kepada kaum militan pro-ISIS, namun menghantam sesama prajurit Filipina.

Sepuluh tentara Filipina tewas akibat serangan udara oleh sesama tentara pemerintah di kota Marawi yang sebagian dikuasai kelompok pemberontak pro ISIS.

Delapan tentara juga terluka dalam peristiwa ‘salah menembak teman sendiri’ pada hari Rabu (31/5), kata menteri pertahanan Delfin Lorenzana, yang mengungkapkan penyesalannya.

“Kemarin kami mengalami tragedi yang melibatkan pasukan kami. Satu regu tentara, para prajurit angkatan darat, terkena serangan udara kami sendiri. Kami kehilangan prajurit kami, 10 orang tewas dan 8 terluka,” kata Lorenzana kepada wartawan.

Sejak pekan lalu militan yang berikrar kepada yang disebut Negara Islam atau ISIS terlibat dalam pertempuran jalanan dengan tentara Filipina, dan sudah menewaskan lebih dari 100 orang.

Militan dari kelompok Maute itu menyerbu kota Marawi setelah tentara Filipina berusaha menangkap seorang pemimpin mereka.

Hak atas foto Camp Vicente Garcia Alagar
Image caption Foto empat WNI yang dicari di Filipina diterbitkan oleh Kepolisian Nasional Filipina (PNP) di Facebook.

Pekan lalu, Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan darurat militer di bagian selatan pulau Mindanao, di lokasi Kota Marawi.

Pasukan keamanan melancarkan serangan untuk menangkap Isnilon Hapilon – seorang militan Filipina yang masuk daftar tersangka teror yang paling dicari di AS.

Pihak berwenang mengatakan puluhan militan berjuang untuk melindunginya, dan kemudian menyerbu kawasan kota dengan populasi 200.000 orang, dan menyandera sejumlah penduduk.

Sejak itu militer Filipina mengerahkan angkatan darat dan serangan helikopter untuk mengusir para milisi.

____________________________________________________________________

WNI yang diduga berada di Filipina selatan dan bergabung dengan jaringan teroris

  1. Al Ikhwan Yushel – lahir Palembayan 01 November 1991, berangkat ke Filipina 28 Maret 2017
  2. Yayat Hidayat Tarli – lahir Kuningan 25 April 1986 – berangkat ke Filipina 15 April 2017
  3. Anggara Suprayogi – lahir Tangerang 26 Desember 1984 – berangkat ke Filipina 15 April 2017
  4. Yoki Pratama Windyarto – lahir Banjarnegara 17 September 1995 – berangkat ke Filipina tanggal 4 Maret 2017
  5. Mich Jaelaani Firdaus – lahir Bekasi 17 mei 1991, berangkat ke Filipina 7 Maret 2017
  6. Muhamad Gurfon – lahir Serang 20 Oktober 1993, berangkat ke Filipina 7 Maret 2017
  7. Muhamad Ilham Syahputra – lahir Medan, 29 Juli 1995, berangkat ke Filipina 29 November 2016

Sumber: Divisi Humas Polri

______________________________________________________________________

Sebagian besar warga sipil telah meninggalkan Marawi, sementara sekitar 2.000 orang masih terjebak di dalam kota.

Menteri Pertahanan Lorenzana mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis bahwa di antara militan yang terbunuh terdapat warga dari setidaknya lima negara lainnya termasuk Indonesia, Saudi, Yaman dan Chechen.

Kepolisian Republik Indonesia sudah pula mendapat informasi dari Kepolisian Nasional Filipina (PNP) bahwa ada tujuh warga negara Indonesia yang dicari polisi terkait perannya dalam milisi pro ISIS dalam penyerbuan di Marawi.

“PNP telah merilis bahwa ada tujuh orang warga negara Indonesia yang patut diduga terlibat di dalam aksi terorisme di kota Marawi, Filipina selatan,” tutur Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul, kepada wartawan BBC Indonesia, Liston P Siregar pada Rabu (31/05).

Ketujuhnya masuk ke Filipina secara legal antara November 2016 serta Maret dan April tahun 2017.

Copyright : bbci.co.uk