Suu Kyi Janji Myanmar Terima Kembali Pengungsi Rohingya

Selasa, 19 September 2017 | 15:38 WIB
Seorang anak laki-laki pengungsi Rohingya berada dalam tenda darurat yang menggunakan plastik saat berada di kamp pengungsian di Cox's Bazar, Bangladesh, 17 September 2017. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

Seorang anak laki-laki pengungsi Rohingya berada dalam tenda darurat yang menggunakan plastik saat berada di kamp pengungsian di Cox’s Bazar, Bangladesh, 17 September 2017. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain.

TEMPO.CO Yangon – Semua mata kini tengah menuju ke Aung San Suu Kyi sebagai pemimpin Myanmar, yang selama ini hanya berdiam diri menyaksikan krisis pembersihan etnis warga Rohingya oleh militer Myanmar.

Penolakan Aung San Suu Kyi sejauh ini untuk membela warga etnis Rohingya selama hampir sebulan tindak kekerasan dan pembakaran rumah serta penghancuran desa-desa telah membingungkan dan membuat marah masyarakat internasional. Ini karena Suu Kyi justru telah dinobatkan sebagai juara perjuangan demokrasi Myanmar dengan mendapat hadia Nobel Perdamaian.

Baca: Bantuan Indonesia untuk Rohingya Tiba di Bangladesh

Dalam pidato pertamanya terkait isu Rohingya pada Selasa, 19 September 2017 itu, Suu Kyi mengatakan Myanmar siap setiap saat untuk memverifikasi status 410.000 Muslim Rohingya, yang menyelamatkan diri dari kekerasan militer Myanmar dan pasukan milisi Buddha garis keras dalam 1 bulan terakhir. Dia berjanji membantu warga etnis Rohingya kembali ke desa-desa mereka di negara bagian Rakhine.

Baca:Bangladesh Tahan 2 Jurnalis Myanmar Saat Meliput Rohingya

Kami siap untuk memulai proses verifikasi setiap saat,” kata Suu Kyi merujuk pada mereka yang telah melarikan diri dalam eksodus yang belum pernah terjadi sebelumnya ke Bangladesh, tanpa menjamin kembalinya semua pengungsi.

Suu Kyi, yang menempati posisi State Consellor atau posisi seperti Perdana Menteri, mengaku merasa kesedihan yang mendalam atas penderitaan semua orang yang terjebak dalam konflik yang memanas di negara bagian Rakhine. Ini merupakan komentar pertamanya mengenai sebuah krisis, yang juga menyebutkan umat Islam mengungsi akibat kekerasan.

“Kami prihatin untuk mendengar jumlah umat Muslim yang melarikan diri ke Bangladesh,” kata Suu Kyi tanpa menyebut nama etnis Rohingya. Suu Kyi juga mengutuk pelanggaran hak asasi manusia yang telah memperburuk krisis.

Sejak 25 Agustus 2017 ketika kelompok militan Pembebasan Arakan Rohingya menyerang pos polisi Myanmar, lebih dari 400.000 ribu warga etnis Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

PBB memperkirakan sebanyak 1 juta warga etnis Rohingya akan melarikan diri ke Bangladesh pada akhir tahun ini jika para pengungsi terus berdatangan.


NDTV|YON DEMA


Sumber RSS / Copyright : tempo.co