Tak Malu Belajar di Sekolah Pemulung dan Dhuafa, Nengsih Bercita-Cita Jadi Dokter

Nengsih (tiga dari kiri) sedang mengerjakan tugas diruang kelas IV SD, Sekolah Kami, Bintara Jaya, Bekasi. (foto/Zaki-PJ)

BEKASI, PJ – Rupanya cita-cita seseorang tidak membedakan status sosial. Siapa pun bisa merangkai cita-cita, hingga setinggi langit, selagi dirinya melihat profesi itu adalah baik untuk masa depan.

Dengan cita-cita, seseorang akan terdorong semangatnya untuk terus bersekolah dengan giat belajar. Tidak peduli omongan orang-orang sekitarnya dan tetap percaya diri, seperti yang diungkapkan Nurida.

Nurida adalah salah seorang alumni Sekolah Kami yang menjadi pengajar disekolah tersebut dan sambil kuliah di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Sumester III, katanya, pemulung harus percaya diri karena semua manusia itu sama.

“Saya pingin jadi dokter, karena bisa membantu Ibu-Ibu yang melahirkan,” ungkap Nengsih (11) pada porosjakarta.com, baru-baru ini.

Nengsih (kedua kiri) usai belajar di Sekolah Kami Bintara Jaya IV Dalam Bekasi Barat, Bekasi Jawa Barat, Senin (5/6/2017). (foto/Zaki-PJ)

Pelajar kelas IV SD Sekolah Kami ini tanpa ragu mengungkapkan cita-citanya, sebab tampak rasa percaya dirinya itu tumbuh seiring dengan peningkatan usia sekolah.

Bagi Nengsih, memiliki orang tua sebagai asisten rumah tangga dan ayah adalah seorang sopir tidak menjadi soal. Ia mengaku tidak malu karena keduanya memang orang tua yang telah membesarkannya.

Belajar di Sekolah Kami membuatnya bangga, tidak menjadi beban orang tua karena memang gratis. Tidak membuatnya minder jika bertemu dengan anak sekolah lainnya.

Pelajar Seklah Kami sedang mengerjakan tugas kelompok  (foto/Zaki-PJ)

Baginya, yang jelas ia berusaha untuk meraih prestasi disekolah seperti ikut berbagai lomba. Dengan usaha dan bakat ia pun bisa meraihnya, meski masih Kelas I saat itu.

“Tahun 2014 saya juara 2 lomba mewarnai gambar di Pelita Bangsa,” ujarnya singkat. [PJ/Zaki]

Copyright : porosjakarta.com