#TanyaBBC: Mengapa Myanmar menyebut mereka orang Bengali dan bukan ‘orang Rohingya?

Seorang anak pengungsi Rohingya yang melintas ke Bangladesh.

Mengapa Myanmar tak menyebut minoritas uslim di rakhine sebagai orang Rohingya dan menyebutnya orang Bengali, apa penyebab konflik dan seperti apa gambaran kehidupan sehari-hari mereka? Inilah di antara berbagai pertanyaan terkait Rohingya yang Anda lontarkan melalui media sosial.

Sekitar 140.000 orang mengungsi ke Bangladesh dari Negara Bagian Rakhine sejak 25 Agustus.

Empat tahun terakhir, wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir melaporkan konflik Rohingya dari berbagai tempat. Tahun ini, dia berkunjung ke kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh dan juga ke Myanmar. Inilah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan melalui akun Facebook BBC Indonesia.


Akun Hiatus Kaldera bertanya: Kenapa pihak Myanmar tidak menyebut Rohingya malah orang-orang Bengali dan muslim?

Jawaban Rohmatin Bonasir:

Akun Hiatus Kaldera menanyakan tentang sebutan Rohingya sementara akun Ratno Giarto bertanya mengapa etnik ini tak diakui.

Pemerintah Myanmar maupun masyarakat biasa di negara itu tidak menggunakan kata Rohingya ketika menyebut kelompok etnik yang sebagian besar tinggal di Negara Bagian Rakhine itu.

Meskipun orang Rohingya sudah ada di Rakhine secara turun temurun, mereka tidak diakui sebagai warga negara Myanmar tetapi dianggap sebagai pendatang gelap dari Bangladesh.

Lagi pula, nama etnik Rohingya tidak tercantum dalam daftar 135 etnik yang diakui pemerintah berdasarkan undang-undang kewarganegaraan tahun 1982 ketika Myanmar masih dikuasai rezim otoriter.

Ratusan ribu Muslim Rohingya menyelamatkan diri dari Myanmar ke Bangladesh.

Oleh karenanya sebutan ‘Rohingya’ tidak digunakan di Myanmar. Sebutan yang lazim adalah ‘orang Bengali atau orang Muslim’.

Namun kelompok Rohingya dan beberapa ahli mengatakan Rohingya adalah asli Rakhine atau Arakan, sebutan yang akrab bagi orang Rohingya.

Di sisi lain, Bangladesh tidak mengakui mereka sebagai warga negara karena mereka berasal dari Myanmar.


Akun Indah Rohmawati dan Setiadi bertanya tentang penyebab ketegangan di Rakhine yang terletak di Myanmar utara.

Jawaban Rohmatin Bonasir:

Ketegangan terbaru dipicu oleh serangan gerilyawan Rohingya terhadap pos-pos polisi di Rakhine, negara bagian yang ditempati oleh warga Rohingya di Myanmar.

Menyusul serangan itu, militer melancarkan operasi militer lagi – seperti pada Oktober 2016 ketika terjadi serangan terhadap pos-pos perbatasan di Maungdaw yang menewaskan sembilan petugas.

Khadija memasak, makan dan tidur di ruang yang sama.

Pihak berwenang menyebutkan sekitar 400 orang Rohingya terbunuh dalam operasi terbaru ini. Berbagai sumber menyebutkan konflik di Rakhine sudah ada selama lebih dari 70 tahun dan merupakan multidimensi, dan mencakup politik agama dan ekonomi.

Politik – Tanpa status sebagai warga negara meskipun faktanya mereka telah hidup turun temurun di Myanmar, orang Rohingya berjuang untuk mendapatkan pengakuan. Tanpa status pula, mereka tak punya hak sebagaimana warga lain di negara itu. Inilah yang ingin diperjuangkan oleh kelompok Rohingya.

Pada 2015, Kartu Putih sebagai tanda pengenal terakhir yang menunjukkan mereka adalah penduduk Myanmar, sudah dinyatakan tidak berlaku.

Agama – Faktor agama memang tampak menonjol dalam konflik Rohingya. Faktanya mereka beragama Islam dan berhadapan dengan etnik-etnik lain yang lebih besar dan yang memeluk agama Buddha.

Seorang anggota parlemen dari Negara Bagian Rakhine, U Bha Shein, terang-terangan menegaskan bahwa masyarakat mayoritas Buddha mengkhawatirkan pertambahan penduduk Rohingya.

Meningkatnya jumlah penduduk Rohingya dapat mengancam jati diri Myanmar sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha.

Jumlah orang Rohingya yang tersisa di Myanmar diperkirakan sekitar satu juta jiwa. Adapun jumlah penduduk negara itu tercatat 52 juta jiwa.

Ekonomi – Suku mayoritas di Negara Bagian Rakhine, etnik Rakhine, menuding Rohingya menyerobot tanah dan peluang ekonomi yang seharusnya menjadi hak mereka sebagai suku asli dan terbesar di negara bagian itu.

Namun kelompok Rohingya mengaku bahwa tanah yang mereka tempati adalah tanah leluhur mereka.


Akun Chik Rini bertanya: Apakah Rohingya hidup normal di Rakhine?

Jawaban Rohmatin Bonasir:

‘Permusuhan’ antara penduduk mayoritas Buddha dan kelompok minoritas Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar masih dapat dirasakan sejak terjadi pembakaran masjid dan pembunuhan pada 2012.

Masjid yang berfungsi tinggal sedikit, sementara sisanya dipaksa ditutup atau tidak boleh dibangun lagi. Larangan itu, kata pihak berwenang, ditujukan untuk meredam ketegangan antara etnik mayoritas Rakhine yang beragama Buddha dan kelompok Rohingya yang beragama Islam.

Komunitas Rohingya juga hidup tersegregasi, menempati kamp-kamp khusus atau perkampungan khusus untuk mereka. Mereka harus meminta izin jika ingin keluar dari lingkungan mereka dan dalam tataran sehari-hari jarang terjadi kontak langsung dengan penduduk dari etnik-etnik lain seperti Rakhine, Chin dan Burman.


Akun Dharma Kesuma bertanya: Mazhab Islam apa yang dianut oleh orang Rohingya?

Jawaban Rohmatin Bonasir:

Sunni. Dan, muslim di Myanmar hanya sekitar 4% dari seluruh jumlah penduduk.


Akun Dharma Kesuma bertanya lagi: Apa bedanya Bengali muslim WN Myanmar yang di Rakkhine dan Yangon, dengan Rohingya?

Jawaban Rohmatin Bonasir:

Muslim Bengali adalah sebutan untuk orang Rohingya yang digunakan secara resmi di Myanmar. Karena nama ‘etnik Rohingya’ tidak diakui keberadaannya dan karena pemerintah negara itu menganggapnya pendatang dari Bangladesh maka mereka dijuluki sebagai orang Bengali atau orang Muslim.

Sebutan ini berlaku bagi orang Rohingya yang ada di Rakhine maupun di tempat-tempat lain seperti Yangon, tetapi sebagian besar warga Rohingya tinggal di Rakhine. Sebagian orang Rohingya mengaku terpaksa menanggalkan identitas suku sebagai upaya untuk mendapatkan kewarganegaraan melalui proses naturalisasi yang rumit, panjang dan memakan biaya besar. Selain Rohingya, ada suku lain yang juga beragama Islam, etnik Kaman.

Sebagian besar orang Kaman (total populasi kurang dari 50.000 secara nasional) tinggal di Rakhine tetapi ada pula yang tinggal di Yangon. Mereka diakui sebagai warga negara Myanmar. Mungkin karena sesama Muslim, suku Kaman kerap dituding memihak Rohingya.

Ketika saya menemui beberapa di antara mereka, mereka mengaku ingin menjaga jarak dengan Rohingya agar tidak ‘dimusuhi’ oleh etnik Rakhine, suku terbesar di Rakhine. Menengok fakta-fakta di wilayah konflik Rakhine, Myanmar


Akun Agus Salim bertanya apakah mereka mau pindah ke Aceh?

Jawaban Rohmatin Bonasir:

Beberapa pengungsi Rohingya yang kami temui di kamp-kamp Bangladesh mengaku ingin bergabung dengan anggota keluarga mereka yang berada di Malaysia. Atau mereka ingin ditempatkan di negara ketika yang menerima pengungsi.

Indonesia sendiri, antara lain dengan alasan belum meratifikasi Konvensi Pengungsi PBB tahun 1951, tidak menerima pengungsi sebagai warga negara, kecuali menampung sementara atas alasan kemanusiaan.

Baru-baru ini, pemerintah Indonesia menganut prinsip non-refoulement, yaitu melarang penolakan dan pengiriman pengungsi atau pencari suaka ke tempat di mana keselamatan jiwa mereka terancam karena alasan-alasan tertentu seperti alasan ras, agama, atau kebangsaan.

Berdasarkan data UNHCR pada akhir 2016, Indonesia menampung 14.405 pengungsi dan pencari suaka, termasuk kurang dari 1.000 pengungsi Rohingya.

Hak atas foto EPA

Sumber RSS / Copyright : bbci.co.uk