‘Tidak cukup’ hanya melarang jual hewan kurban di trotoar

hewan kurbanHak atas foto BBC Indonesia
Image caption Seorang penjual hewan kurban menggunakan trotoar di Jalan Kebon Kacang Raya, Jakarta Pusat.

Larangan menjual hewan kurban di trotoar ibu kota Jakarta tidak berjalan efektif, karena pemerintah DKI Jakarta dianggap tidak serius menyiapkan lahan yang layak bagi pedagang hewan kurban, kata pengamat.

“Jangan sampai melarang, tapi tempatnya (penjualan hewan kurban) tidak disediakan. Jadi mau dijual di mana hewan-hewan itu?” kata pengamat tata kota, Yayat Supriyatna, kepada BBC Indonesia.

Yayat kemudian menyarankan agar pemerintah DKI Jakarta menyiapkan secara khusus program tahunan untuk mengantisipasi kehadiran penjual hewan kurban setiap Idul Adha, termasuk penyiapan lokasi alternatif serta kepastian harga hewan kurban.

“Dan, kalau mereka tetap membandel, harus dirazia, diangkut (dengan kendaraan yang disiapkan pemerintah DKI Jakarta) untuk dipindahkan ke tempat resmi. Nah, ini yang belum dilakukan,” tegas Yayat.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sosialisasi tempat penjualan ternak masih kurang untuk kalangan para pedagang.

Sampai Kamis (31/08) siang, BBC Indonesia masih menjumpai sejumlah penjual hewan kurban masih terlihat menggunakan trotoar di Jalan Kebon Kacang Raya dan Jalan KH Mas Mansyur, di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Dua orang penjual menempatkan belasan ekor kambing dan beberapa ekor sapi di trotoar sehingga para pejalan kaki harus berjalan di ruas jalan untuk kendaraan bermotor.

Dilarang menggunakan trotoar

Sejak dua pekan lalu, Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, telah melarang penggunaan trotoar untuk menjual hewan kurban.

Dia bahkan kemudian memperpanjang program bulan tertib trotoar -untuk mengembalikan fungsi trotoar- hingga akhir September.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat telah melarang penggunaan trotoar untuk menjual hewan kurban.

“Karena masih ada warga yang belum sadar juga, bahwa trotoar adalah untuk pejalan kaki, bukan untuk jualan kambing,” kata Djarot, Sabtu(26/08), pekan lalu.

Pernyataan ini dikeluarkan Djarot setelah ada laporan-laporan masyarakat yang mengeluhkan kehadiran para pedagang hewan kurban yang menggunakan trotoar.

Selain dianggap menganggu fungsi trotoar untuk pejalan kaki, hewan-hewan seperti kambing dan sapi itu juga mengeluarkan aroma yang dianggap menganggu sebagian warga, dan ksehatan hewan itu sendiri dikhawatirkan.

Lahan disewakan atau gratis?

Djarot sendiri mengaku bahwa dirinya telah memerintahkan camat, utamanya di Jakarta Pusat, untuk mencari lahan bagi pedagang hewan kurban.

“Sudah saya instruksikan kepada wali kota, camat dan lurah, untuk menghimbau mereka untuk keluar dari trotoar, karena di beberapa titik (lahan penampungan) sudah disediakan,” katanya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Seorang warga harus berjalan di ruas jalan raya, karena trotoarnya digunakan tempat menampung kambing-kambing milik Heri.

Salah-satu lokasi yang dilaporkan disiapkan untuk penjual hewan kurban adalah lahan milik sebuah perusahaan rokok di kawasan Karet, Jakarta Pusat.

Namun menurut Yayat, jika lahan itu diklaim sudah disediakan maka pemerintah DKI Jakarta harus sejak awal sudah menginformasikan kepada pedagang hewan kurban.

“Mereka harus tahu. Lalu gratis atau tidak (sewa lahan)? Kalau sewa, pedagang pasti mikir, dan lagi pula waktunya (penjualan hewan kurban) kan terbatas,” tegas Yayat.

Di masa mendatang, Yayat menyarankan pemerintah DKI Jakarta bekerja sama dengan pengurus RT/RW, pengelola masjid dan musholla untuk mencari solusi yang tepat perihal lahan penjualan hewan kurban.

“Karena mau-tidak-mau, mereka akan selalu datang ke Jakarta, karena potensinya besar,” ujarnya.

Penjual kurban: ‘Saya ajak berkelahi’

Heri Safrudin, yang berusia 32 tahun, menjual hewan kurban berupa kambing di ruas trotoar di Jalan Kebon Kancang Raya, Jakarta Pusat.

Dia mendatangkan 38 ekor kambing dari Kota Magelang, Jawa Tengah, sejak pekan lalu. “Ada empat yang mati saat di jalan,” ungkap Heri kepada BBC Indonesia, Kamis (31/08) siang.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Salah-satu ruas trotoar di Jalan Kebon Kacang Raya, Jakarta Pusat, dan beberapa warga yang berjalan di ruas jalan raya.

Warga asli kampung Kebon Kacang, Jakarta, ini mengaku sudah tujuh tahun menjual hewan kurban setiap menjelang Idul Adha. “Mungkin kalau bukan orang sini, enggak bakal dikasih izin oleh pemilik gedung.”

Pemilik gedung itu adalah pemilik tanah kosong di belakang trotoar tempat dia meletakkan kambing-kambingnya.

Saat saya jumpai, lebih dari separoh kambing-kambingnya sudah terjual. “Sisanya 16 ekor,” ungkapnya.

Dia mengaku sempat didatangi dan ‘ditegur’ oleh petugas dari kecamatan setempat, yaitu soal kesehatan kambing-kambingnya dan kebersihan lokasi. Sama-sekali tidak disinggung persoalan trotoar, katanya.

Larangan Gubernur Ahok

Apakah ada orang atau pihak lain yang pernah memasalahkan keberadaan kambing-kambing Anda di atas trotoar?

“Kalau dikomplain, kita (ajak) berkelahi,” katanya singkat, kemudian tertawa. Lagipula, lanjutnya, dia berdagang di lokasi itu hanya setahun sekali dan itu pun cuma sepekan.

Ntar malem sudah rapi, kelar. Hitungan jam doang. Enggak ganggu, apalagi (pejalan kaki) enggak lewat sini,” tegasnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pernah mengusulkan agar penyembelihan hewan kurban dilakukan di tempat pemotongan hewan.

Tapi siang itu saya memergoki setidaknya tiga orang harus berjalan di ruas jalan raya karena trotoarnya digunakan tempat menampung kambing-kambing milik Heri.

Dia kemudian teringat pernah berkelahi dengan petugas dari kantor kecamatan setempat, setahun silam, lantaran tidak diizinkan menjual hewan kurban di ruas trotoar yang sama.

“Itu pas zamannya Pak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI saat itu) lagi gencar-gencarnya,” ungkapnya. “Saya sampe berkelahi sama orang kecamatan.”

Heri juga teringat ketika Ahok meminta penyembelihan hewan kurban tidak dilakukan di sekolah atau tempat umum tertentu, melainkan di tempat pemotongan hewan. Heri saat itu termasuk orang-orang yang menolak ide Ahok tersebut.

Usulan Ahok lebih dilatari masalah kesehatan, tetapi sebagian orang-orang menganggap dirinya membatasi umat Islam melakukan ibadah kurban. Dalam praktiknya, usulan Ahok itu kemudian tidak dipatuhi dan diulangi sampai sekarang.

Sumber RSS / Copyright : bbci.co.uk