Toko Ritel Berguguran, Pesta Diskon Untuk Masyarakat

Jakarta – Para perusahaan ritel yang pernah berjaya, satu persatu mulai menutup gerai-gerainya. Mulai dari penutupan seluruh convinience store 7-Eleven (Sevel), 2 gerai Matahari di Pasar Raya Manggarai dan Blok M, hingga yang terbaru Lotus serta Debenhams.

Mereka para perusahaan pengelola seperti PT Modern Sevel Indonesia, PT Matahari Departmen Store Tbk (LPPF), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) punya alasan yang sama, yakni gerainya tak untung. Beban operasional yang tinggi memaksa mereka untuk menutup gerai-gerainya yang sepi.

Ada yang bilang, banyaknya gerai ritel yang tutup menandakan daya beli masyarakat turun. Namun ada pula yang percaya bahwa yang terjadi hanyalah dampak pergeseran gaya belanja masyarakat dari offline ke online.

Terlepas dari itu, penutupan gerai ritel menarik perhatian khalayak dari sisi lain yakni diskon besar-besaran. Demi menghabiskan stok biasanya para pengelola rela membanting harga. Alhasil gerai-gerai yang tadinya sepi mendadak dikerubungi pelanggan.

Hal itu terjadi di dua gerai toko Matahari di Pasar Raya dan Manggarai. Produk-produk fashion ludes terjual dalam beberapa hari saja lantaran diskon yang diberikan sangat menggiurkan.

Kejadian serupa juga terjadi pada tutupnya gerai Lotus di Thamrin dan sepertinya lebih heboh. Para pembeli rela mengantri panjang bahkan sebelum toko dibuka. Itu dilakukan hanya demi mendapatkan barang berdiskon hingga 80%.

Pengelola bahkan menerapkan sistem antrian per kloter demi menjaga agar di ruangannya tak penuh sesak. Hingga jelang tutup toko, masih ada kloter antrian terakhir yang masih setia menunggu gilirannya.

Sementara di Debenhams, Senayan City, belum terlihat kepadatan pengunjung. Namun department store yang mau ditutup akhir tahun ini sudah menerapkan diskon hingga 70% sejak saat ini. Diskon tersebut akan berlaku hingga hari penutupan.

Tentu fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan. Jika memang benar daya beli masyarakat turun, mengapa masyarakat begitu antusias berburu barang diskon? Lalu apakah benar mereka yang menutup gerainya lantaran tak mampu bersaing dengan toko online?

Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Tjahya Widayanti, kehadiran e-commerce tidak lantas menyebabkan toko ritel menutup gerai, karena masih banyak juga yang bertahan.

Selain itu, Tjahya mengatakan tidak ada sesuatu yang menunjukkan daya beli lesu yang menjadi pemicu. Pasalnya, jika melihat ritel keseluruhan, pasar tradisional juga bakal terkena imbas, tapi tidak terjadi.

“Sekarang diributkan, bahwa kalah bersaing dengan online, apakah benar begitu? Karena beberapa ritel modern masih tetap eksis. Daya beli itu dilihat dari mana, karena kalau bicara keseluruhan, pasar rakyat kosong enggak? Kan enggak. Kalau bicara ritel secara keseluruhan, pasar rakyat juga ritel ya,” terangnya.

Sementara, CEO Tokopedia, William Tanujaya, menolak anggapan kehadiran e-commerce membunuh bisnis ritel konvensional tersebut. Pasalnya, dari data yang dia miliki, transaksi online sendiri kata dia baru 1% dari total ritel yang ada di Indonesia.

“Saya tidak punya basis data. Karena basis data yang saya miliki, transaksi online baru 1% dari total ritel. Tapi rasanya, saya pikir kita harus melihat kondisi makro ekonomi atau bisnis-bisnis tertentu juga. Setiap hari pasti banyak toko-toko yang tutup, tapi banyak toko-toko yang buka juga,” katanya.

Dia sendiri berpikir, toko online tak akan bisa eksis tanpa adanya kehadiran toko offline. Sehingga ke depan, justru kedua jenis marketplace tersebut malah akan saling berkolaborasi agar bisa sama-sama tumbuh secara berkelanjutan.

“Kalau trennya ke depan, saya bilang offline dan online itu tidak saling membunuh tapi saling membutuhkan,” tutupnya singkat.

Hal juga diamini oleh Kepala Divisi Pajak, Infrastruktur dan Keamanan Cyber asosiasi e-commerce Indonesia (idEA), Bima Laga. Menurutnya, berubahnya tren gaya beli masyarakat yang kini ke arah digital harusnya sudah diantisipasi oleh toko-toko ritel modern yang selama ini masih mengandalkan pengalaman berbelanja secara offline.

Contoh kecil bisa dilihat dari cara orang berbelanja makanan saat ini yang tak lagi langsung ke pusat perbelanjaan, tapi hanya melalui smartphone yang dimilikinya.

“Jadi bagaimana tren experience store-nya itu harus ada di dalam offline. Contohnya Starbucks. Kita beli Starbucks bisa through Gojek, lewat handphone, dan itu termasuk e-Commerce. Mereka (gerai ritel offline) juga bisa melihat celah seperti itu enggak?” tutur dia.

Hal ini pun menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Menteri Keuangan, Sri Mulyani pun telah meresponsnya dengan berencana meracik formulasi untuk mengatur perubahan pola usaha dari konvensional ke digital.

“Kami akan lihat dari sisi perpajakan atau kepabeanan. Kami sudah minta dua jenderal (Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai) dan BKF untuk bisa membantu level of playing field di level yang lebih sehat,” tukasnya.

(ang/ang) Sumber RSS / Copyright : detik.com