Wona Sumantri Dongkrak Kepopuleran Pencak Silat di Amerika

Diaspora Indonesia, Wona Sumantri, sudah mengajar pencak silat di wilayah Washington, DC selama lebih dari 20 tahun. Kepada para muridnya yang hampir seluruhnya adalah warga lokal AS, Wona mengajarkan ilmu Harimau Singgalang dari Sumatra Barat dan ilmu silat Cimande dari Jawa Barat yang diturunkan oleh sang ayah kepadanya.​

“Karena silat itu kan sudah di keluarga saya. Jadi bapak saya juga orang silat, adik saya, kakak saya, jadi (menurun) ke saya,” papar Wona Sumantri kepada VOA belum lama ini.

Dari situlah Wona kemudian memutuskan untuk menjadi pengajar silat.

“Jadi, karena saya juga semakin besar, saya semakin bangga sama kebudayaan Indonesia, saya bisa mengajar silat,” kata wona.

Selama bertahun-tahun, Wona mengajar di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC, juga keliling Amerika untuk mengajar di berbagai seminar. Tahun 2011, akhirnya Wona memutuskan untuk membuka studio pencak silat di bawah nama Silat Martial Arts Academy di negara bagian Maryland.

“Saya merasa untuk mempromosikan pencak silat ke umum kita memang harus buka studio. Jadi studio ini seperti studio bela diri saja, seperti karate, taekwondo, jadi ini usaha saya juga,” ujar Wona.

Saat ini ada lima orang pelatih yang mengajar, termasuk Wona dan adiknya, Rendy. Tiga pelatih lainnya adalah warga lokal yang ikut membantu Wona mempromosikan pencak silat di Amerika. ​

​Silat Martial Arts Acedemy ini juga memiliki cabang di negara bagian Virginia. Jumlah muridnya kini sudah mencapai sekitar 80 orang yang berusia mulai dari lima hingga enam puluh tahun.

Wona melihat, pencak silat banyak peminatnya di Amerika. Itulah yang juga membuatnya tertarik untuk mengajar silat. Terlebih lagi ketika ia melihat murid-muridnya berkembang, bahkan mau ikut mengajar silat sambil membantunya mempromosikan pencak silat.

“Banyak warga amerika senang banget sama pencak silat, jadi bikin saya semangat,” kata Wona.

“(para murid) juga merasa (adanya ikatan) sama Indonesia, karena banyak murid saya juga ke Indonesia, belajar, traveling,” tambahnya.

Menurut Wona, orang-orang yang tertarik dengan pencak silat biasanya juga sudah menguasai ilmu bela diri yang lain. Mereka pun tahu bahwa ilmu bela diri yang satu ini merupakan warisan budaya Indonesia.

“Kebanyakan orang yang cari itu, orang yang sudah ada pengalaman sama bela diri. Jadi ini bukan orang baru yang baru belajar bela diri. Jadi (ilmu) bela diri yang mereka sudah belajar, mereka merasa masih kurang. Karena kalau pencak silat itu memang sih lengkap. Jadi ada kuncian, ada bantingan, main senjata, main bawah, jadi mereka merasa pencak silat sudah lengkap,” jelas Wona.

Tidak hanya mengajar, Wona juga sering melakukan demonstrasi pencak silat dan tampil bersama para muridnya di berbagai acara kebudayaan di Amerika, termasuk festival-festival yang mempromosikan kebudayaan Indonesia.

Tinggal di Amerika sejak berusia lima tahun tidak membuat Wona lupa akan tanah air. Ia bahkan semakin cinta dan bangga terhadap kebudayaan Indonesia dan aktif mempromosikannya lewat pencak silat Indonesia.

“Saya optimis ya, karena memang budaya Indonesia itu memang kaya, dan udah (dikenal) di seluruh dunia, termasuk pencak silat,” kata Wona.

Wona melihat kebudayan Indonesia seperti batik dan pencak silat sudah banyak dikenal di seluruh dunia. Tinggal tugas kita sebagai orang Indonesia mempromosikannya kepada warga internasional.

“Ya kitalah harus yakin, dan harus bangga (dengan) semua (latar belakang) dari Indonesia. Karena kalau kita enggak bangga, jadi yang mempromosikan budaya Indonesia, orang luar negeri? Kan lucu,” tambahnya menutup wawancara dengan VOA. [di]

Copyright : voaindonesia.com